Selasa, 04 April 2017

Rumah di Pinggiran Surga, Mau? Lakukan ini!


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Saya ada pengalaman yang perlu saya share ya, ini hampir sama dengan kasus kunci dan flashdisk saya yang pernah saya ceritakan beberapa waktu yang lalu. Baiklah sahabatku, saya akan memulai cerita saya ya.

Sebenarnya ini tentang seseorang yang suka sekali dengan berargumen atau ngajak debat lebih tepatnya. Yang saya maksudkan adalah debat atau berargumen yang negatif ya sahabatku, yang tidak berlandaskan ilmu. Berbeda jika debat tersebut ditujukan oleh dr. Zakir Naik, justru dia menjadi contoh yang baik bagi umat Islam. Dia menguasai kitab lain untuk mengajak debat tentang Islam kepada orang non-muslim. Masyaallah, itu sangat mulia bahkan beliau telah mengislamkan banyak orang. Dia berdebat dengan berlandaskan ilmu pengetahuan yang ia kuasai, namun masih saja ya banyak yang mencela.

Kembali lagi ke pembahasan awal tentang debat yang negatif ya sahabatku. Menurut kalian,  bagaimana sih perasaan kalian ketika ada yang berargumen atau posting di sosial media tentang sesuatu yang berbeda pemikiran dengan kalian terlebih soal agama? Ada rasa jengkel, marah atau sejenisnya kan? Itu seperti yang saya rasakan saat itu. Namun sahabatku, mau berkomentar atau bisa dibilang berdebat justru tidak akan menyelesaikan masalah akan tetapi masalah baru akan muncul.  Jadi, alangkah baiknya untuk diam saja. Itu menjadi prinsip saya ketika ada orang yang selalu ingin ngajak diskusi yang lebih condong ke perdebatan negatif dengan tujuan memojokkan saya.

Seperti dalam hadits,
“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam” (HR. Bukhari& Muslim)

Saya selalu melihat orang itu memposting sesuatu yang selalu bertentangan dengan apa yang saya pikirkan, sampai suatu saat dia memposting sesuatu dengan mencela ulama internasional (Tahu dong siapa? :D) yang notabene saudaranya sendiri (Muslim). Tangan saya rasanya gatal ingin berkomentar, ketika saya sudah mengetik dengan kata-kata yang bisa dibilang lebih halus namun Allah telah melarang saya buat melakukan itu. Tahu darimana saya bisa berkata semacam itu? Saya berpositif thinking saja dengan Allah dan itu seperti yang telah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sarankan bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ketika itu, saya sudah mengetikkan kata-kata yang siap untuk saya kirim pada komentar dari postingan sosial media orang tersebut, namun tiba-tiba hape saya tidak bisa mengetik dan halaman page tersebut harus di road. Sekejap saya membuang nafas karena saat itu saya dalam perasaan jengkel. Beberapa menit kemudian saya mencoba untuk berpikir lebih jernih “Astaghfirullah, maafkan saya. Terimakasih Ya Allah sudah mencegah saya” kurang lebih kata-kata itu yang ada dibenak saya, kemudian saya semakin tenang dan lebih tenang.

Benar saja, bahwa itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsip saya sejak awal untuk tidak berdebat atau berkomentar tentang postingan yang semacam itu. Saya ingat bahwa berdebat itu tidaklah baik dan selain itu tidak disarankan seperti dalam hadits,
“ Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat" (HR. Bukhari&Muslim)

Saya menyadari bahwa saya kurang ilmu jika diajak untuk berdebat, justru yang ada hanyalah kekesalan atau bahkan kebencian. Dan hal tersebut yang menjadi alasan kenapa Islam sangat tidak suka kepada orang yang berdebat tentang hal yang tidak berlandaskan ilmu.

Namun tetap saja banyak orang yang nyolot dengan pendapatnya sendiri. Dia lebih mementingkan logikanya daripada apa yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Saya sangat menyesalkan jika saudaraku muslim yang selalu berdebat (yg negatif) dengan mengedepankan logika dan egonya. Ingatlah bahwa keputusan atau debat yang hanya dilandaskan atas logika atau ego justru akan menghancurkan diri sendiri.

Meredam ego dan tidak berfikir yang negatif kepada sesama saudara muslim atau pun non-muslim akan membuat hati sahabatku lebih adem, tenang dan kalian bahkan akan lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Percayalah sahabatku, ketika kalian bertemu dengan perdebatan yang justru menimbulkan kebencian lebih baik dengarkan dan diam. Walaupun sesaat kalian memiliki perasaan yang meledak-ledak, namun beberapa waktu kemudian kalian justru akan menemukan jawaban yang benar dan tidak menyesalinya.

Apakah kalian tidak menginginkan rumah di pinggiran surga? ya rumah itu ditujukan buat sahabatku yang bisa meninggalkan perdebatan. Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
" Saya memberikan jaminan rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggu bagi yang membaguskan akhlaqnya” (HR. Abu Dawud)

Masyaallah, indah banget kan?

Jika ingin berdebat sekelas dr. Zakir Naik maka yang perlu kalian miliki adalah ILMU. Ya, tidak hanya memposting atau berargumen dengan menjelekkan oknum tertentu baik dengan dukungan artikel ataupun tidak. Sebab artikel pada website juga belum tentu valid kan, bahkan banyak kok website yang suka memojokkan tokoh-tokoh tertentu padahal mereka juga muslim.

Jangan sampai ya hal tersebut terjadi pada kalian, naudzubillah min dzalik. Inget, hahwa mereka itu adalah saudara muslim kalian sendiri.

Saya sharing kisah saya ini karena saya tidak ingin orang lain terpancing dengan perdebatan atau argumen orang yang tidak sependapat dengan sahabatku terutama jika bersangkutan dengan agama. Topik mengenai agama itu sangat sensitif sahabatku, jadi harus hati-hati dalam menanggapinya. Jadi, manfaatkan sosial media dengan bijak dan baik ya sahabatku. Amalan baik bisa datang mengalir melalui sosial media loh sahabat. Oiya pembahasan ini mungkin the next ya.

Mungkin cukup dulu ya sahabatku, semoga pengalaman saya ini bermanfaat. Saya sendiri bukanlah makhluk yang sempurna ya sahabat, maaf kalau ada kalimat atau konten yang menyinggung sahabat.

Terimaksih, wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Minggu, 26 Maret 2017

Begini Caranya Biar Bisa Jauh Dari Playboy Pake Kedok "Islami"

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh ukhti

Kesempatan kali ini saya masih berbicara tentang cinta dalam Islam ya. Saya yakin pasti ada yang baper kan kalau membahas masalah ini termasuk saya hehe. Tidak masalah itu sudah menjadi fitrah kok tinggal kitanya saja yang harus memanage perasaan itu. Jangan sampai kita tenggelam pada perasaan itu dan secara tidak sadar menjauh dari-Nya.

Okay ukhti sahabatku, ini adalah kisah saya pribadi dan teman saya juga mengalami masalah hal yang sama. Mungkin sahabat yang disana pernah juga mengalami masalah semacam ini, dan bingung harus berbuat apa. Apakah harus menjauh atau malah sudah terjebak didalamnya. Okay, saya saat ini berbicara soal seorang playboy lillah. Loh kok gitu sih? Kok harus pakai lillah, kan jadi gimana gitu.

Begini ya penjelasannya sahabatku, pernah tidak sih kalian didekatin sama laki-laki yang mulutnya manis banget. Dia bakal janjiin nikah, rayuannya..beeuuhh maut banget. Dia bikin cinta itu terkesan syari’at sahabat. Iya cinta yang terkesan syari’at.  Jadi dia sering sekali mengingatkan kita buat shalat, berdzikir, shalawat, tahajjud ataupun ibadah lainnya. Hati-hati yang sahabatku, ini namanya talbis atau tipu daya iblis.

Dia sering chat kepada kita tentang hal-hal yang manis, nanyain kabar setiap waktu. Haduuuh, siapa dia iya kan? Hati-hati loh nanti jadi tergoda, jadi suka deh sama do’i. Iya sahabatku, perempuan itu diciptakan dari tulang yang bengkok jadi cepet banget rapuhnya kalau belum ada yang mencoba buat ngelurusin (suami dong jelasnya ya bukan pacar). Selain itu, perempuan itu diciptakan dengan hati yang lembut dan mudah tersentuh, nah sahabatku karena kita ini diciptakan dengan hati yang lembut maka dari itu kita harus menjaga diri jika ada laki-laki yang mencoba merayu kita. Perempuan itu akan mudah sekali terkena rayuan laki-laki karena laki-laki memang diciptakan dengan mulutnya yang manis.
Lalu bagaimana buat menghindari orang semacam itu? Hal ini pernah juga saya sampaikan kepada sahabat saya, karena saya pernah mengalaminya jadi tidak ada salahnya kan ya buat dibagi/disharing kepada sahabat.

Pertama, Menjauhi orang tersebut. Karena jaman sekarang begitu canggih ya sahabat, jadi buat tanya kabarpun tidak harus bertemu atau melalui surat, dengan kirim chat aja satu detik langsung sampai. Jika laki-laki itu menghubungi dan terus mengusik kalian, delete saja kontak dia. Blocking semua akun sosial medianya. Lah itu kan sama saja sudah memutuskan silaturahmi? Jangan cemas sahabat, ini kan bukan atas kehendak kalian juga kan. Ini semua karena kesalahan dia, jika sahabat tidak melakukannya justru sahabat sendiri yang dosa karena terus berinteraksi dengan dia.

Saya pernah juga dapat sms karena sudah delete dan block semua sosial media seseorang, dibilang saya sudah tidak lagi menjaga silaturahmi. Agar tidak ada kesalahpahaman dan hati juga tidak merasa bersalah, lalu saya membalasnya “Maaf, Saya bukan bermaksud untuk memutuskan silaturahmi namun saya menjaga diri..” teks selanjutnya saya lupa sahabat, soalnya sudah cukup lama ya. Pada intinya, kalau dia menghubungi kalian, jelaskan secara tegas bahwa sahabat tidak ingin berdosa karena rayuan dia. Ya, kalau bisa katakan secara lebih halus ya biar orang itu juga tidak sakit hati.
Lalu bagaimanan kalau kita sudah terlanjur suka sama laki-laki itu? Sahabatku, soal jodoh jangan terlalu khawatir. Percaya dengan takdir Allah kan? Nah, serahkan semua kepada Allah, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Toh kalau dia jodoh sahabat, pasti nanti akan kembali dengan keadaan siap melamar sahabatku. Indah kan?

Barangsiapa meninggalkan pujaan hati yang belum halal karena Allah, maka Allah akan beri ganti dengan jodoh yang terbaik yang menjaga kesucian diri (©Muslimpedia).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh seorang sahabat,

 “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik” (HR. Ahmad,5:363. Syaikh Syu’aib Al arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kedua, perbanyak ibadah. Misalnya dengan berdzikir, yang seperti direkomendasikan oleh Ustadz Yususf Mansur, istighfar 100x, sholawat 100x, subhanallahu wa bihamdihi 100x. Atau dzikir-dzikir lainnya yang biasa sahabat lakukan.

Kalau saya pribadi, sering berdzikir dengan membaca subhanallahu wa bihamdihi 100x itu ketika selepas shalat subuh(pagi) dan shalat maghrib (sore). Agar kenapa?
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,
“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika pagi dan sore membaca ‘Subhanallahu wabihamdihi (Maha Suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sebanyak 100 kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorang pun yang akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.””

Jadi sahabatku, jangan lupa buat terus mencharge iman kita ya. Lakukan dzikir, baca Al-Qur’an atau ibadah-ibadah lainnya. Insya Allah kita akan dijauhkan orang-orang semacam itu dan dipertemukan dengan orang yang jauh lebih baik. Aamiin.

Pada intinya, soal jodoh itu sudah diatur oleh Allah subhanahu wata’ala. Hanya kita perlu sabar untuk menjemput jodoh tersebut. Perbanyak ibadah ya pastinya dan sembari nunggu jodoh datang lakukan kegiatan-kegiatan positif seperti datang ke majelis ta’lim, ikut dalam komunitas sosail atau yang lainnya yang bisa terus menjaga keistiqomahan sahabat agar terus selalu dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala.

Mungkin cukup dulu kali ya sahabat, kalau ada pertanyaan atau menanggapi soal artikel ini silahkan tunggalkan komentar dibawah ini. Jangan lupa vote nya. hehe

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 25 Maret 2017

Tips Untuk Yang Hijrah Dari Pacaran Tidak Halal

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh sahabatku

Sehat kan sahabat? Saya? Alhamdulillah luar biasa masih diberikan nikmat kesehatan oleh Allah. Jangan lupa untuk bersyukur setiap hari ya biar tambah semangat dan Allah terus menyayangimu.

Sahabatku, sejak kapan kamu merelakan pandanganmu untuk lawan jenis yang belum berhak ada disampingmu? Sejak kapan kamu menghalalkan dirimu untuk memberikan dia perhatian khusus padahal dia tidak seharusnya mendapatkan itu darimu? Sahabatku, apa yang sedang kamu kejar saat bersama orang yang belum halal untukmu?

Sahabatku, tentu lah sulit untuk melepas orang yang kita suka, bukan? Tapi, Allah sudah menjanjikan orang yang tepat untukmu. Lalu kenapa kamu memilih orang yang belum tentu Allah meridhainya? Sahabatku, jika saat ini kamu mulai terketuk hati untuk hijrah dari perbuatan yang tidak Allah suka ini maka mulailah dari sekarang walaupun itu sangat berat bagimu.

Sahabatku, saya juga pernah melalui tahap seperti ini. Harus benar-benar meninggalkan orang yang kita suka karena memang itu belum waktunya. Ya, Allah belum memberikan kita ijin untuk bersama orang yang belum halal bagi kita. Tidak perlu saya ceritakan kan bagaimana rasanya? Saya yakin sahabat tahu bagaimana rasanya.

Jika memang sahabatku khususnya bagi kalian perempuan yang  sedang menyukai seseorang, cukuplah do’a yang menjadi penghubung kerinduan kalian. Menyerahkan semuanya kepada Allah adalah jalan yang paling tepat.

Lalu bagaimana cara untuk meninggalkan orang yang kita suka? Bagaimanan caranya untuk hijrah dari semua itu? Sahabatku, ini adalah sekedar pengalaman yang pernah saya alami. Mungkin sahabatku bisa mencontohnya ya, Insya Allah semoga berhasil.

Pertama, putuskan orang yang saat ini sedang kamu anggap sebagai seorang pacar. Sahabatku, pacaran yang syar’i itu tidak ada, saya mohon jangan terus menghalalkan alasan semacam itu. Saya banyak menemui sahabat-sahabatku yang memiliki pandangan untuk menikah, namun yang sangat disayangkan dari mereka adalah berpacaran. Diantara mereka pernah bilang, “Saya sama pacar saya juga sering membahas nikah. Pacar saya juga pernah bilang akan menikahi saya pada waktu yang tepat”

Saya jadi teringat dengan kisah romantis ustadz-ustadzah dari teman saya. Saat itu, ustadz-ustadzah tersebut masih dibangku kuliah. Mereka sering mengajar TPA ditempat yang sama, hingga pada waktunya  mereka harus berpisah karena sudah sama-sama lulus kuliah. Saat itu, si ustadzah harus kembali ke kampung halamannya di Riau sedangkan ustadz tetap tinggal di Yogyakarta.  Sebelum mereka berpisah, ustadz tersebut sempat bilang kepada si ustadzah kalau dia menyukainya lalu ustadzah menjawab, “Saya harus kembali ke kampung halaman saya di Riau, kalau pun kita berjodoh Insya Allah Allah akan mempertemukan kita kembali”

5 tahun mereka tidak pernah bertemu kembali namun mereka sering bertegur sapa melalui sepucuk surat. Sempat ustadzah sedang ta’aruf dengan seorang dokter, ketika mereka bertemu di suatu tempat secara tidak sengaja ustadzah tersebut melihat ustadz sedang menatapnya. Begitu pula dengan si ustadz, ketika dia akan melamar seorang perempuan dia gagal dan seperti melihat si ustadzah. (Saya tidak tahu dengan maksud ini ya, mungkin saja ini halusinasi. Ambil sisi positifnya aja ya)

Sampai suatu ketika, temannya mengajak si ustadz untuk pergi ke Riau. Lantas ustdaz teringat dengan ustadzah yang tinggal di Riau. Dengan berani ustadz berkata kepada temannya tentang alamat dari ustadzah apakah ada orang yang kenal dengan keluarga dari ustadzah. Subhanallah, dengan ijin Allah semua itu terjawab. Orang yang mengajak ustadz tersebut mempunyai teman yang kenal dengan keluarga ustadzah. Disaat ustadz akan kembali ke Yogyakarta, dia sempatkan untuk mengunjungi rumah si ustadzah.

Mereka pun mengobrol mengenai kesibukan masing-masing selama 5 tahun terakhir. Dan juga menceritakan kejadian aneh yang terjadi kepada mereka. Sontak hal itu membuat si ustadz yakin untuk meminang ustadzah. Pada akhirnya, sebelum kembali ke Yogyakarta si ustadz memberanikan diri mengatakan kepada kedua orang tua si ustadzah untuk berniat mempersunting anak  mereka.

Hikmat dari cerita ini ya sahabatku, sejauh apapun kalian berada kalau Allah sudah menetapkan  kalian berjodoh maka Allah akan mempertemukan. Tidak perlu melalui pacaran kan, cukup berteman. Kalau pun berjodoh maka dengan sendirinya  kalian akan bertemu di pernikahan.

Untuk memulai hijrah ini, niatkan pada diri karena Allah dan Bismillah.

Kedua,  Berusaha untuk tidak memberikan perhatian atau sering-sering menghubungi dia. Ya sahabat, ketika kalian sering menghubungi orang yang kita suka justru ada rasa yang dapat menyebabkan kita berdosa. Alangkah baiknya untuk tidak sering berkomunikasi untuk menghindari sebab-sebab semacam itu.

Ketiga, mulai berteman dengan orang yang sholeh/sholehah ya agar perjalanan hijrahmu tidak terpotong di jalan. Kadangkala kamu bisa futur karena memilih berteman dengan orang yang salah, untuk menghindari hal semacam itu maka pilih teman yang benar-benar memiliki visi yang sama denganmu yaitu ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ya, orang-orang juga akan menilaimu dengan siapa kamu berteman kan? Selain kamu bisa beristiqomah karena dukungan teman hijrahmu, kamu juga akan mendapatkan banyak ilmu serta pengalaman dari mereka. Dengan begitu Insya Allah, hatimu akan terus bersemangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Seiring waktu kamu akan menikmati kesendirian dan tidak terbelenggu perasaan yang sebelumnya dirasa berat.

Keempat,  berpuasa. Sahabatku, dengan berpuasa maka kamu akan bisa mengendalikan emosi kamu. Bahkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim mengatakan bahwa “Abdullah ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kmi: “Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.””

Kelima, memperbanyak istighfar. Sahabatku, dengan kamu memikirkannya setiap saat tentu akan menimbulkan perasaan yang  justru menggebu-gebu. Hal ini justru tidak baik buat sahabatku kan? Perbanyak mengucapkan istighfar dan memohon ampunan kepada Allah. Menyadari bahwa semua itu adalah kesalahan sebelum halal. Merindukan atau pun mencintai dengan berlebihan adalah sebuah kesalahan yang dapat menjerumuskan sahabat kepada dosa. Ya, kita saja telah diperintahkan untuk menundukkan pandangan yang berarti dengan memandangnya saja kita sudah berdosa karena sudah termasuk zina mata. Masa’ mau sih berperilaku semacam itu, terlebih ada zina-zina lain kalau tetap melakukan pacaran sebelum halal, iya bukan? Contoh seperti berduaan, ada yang mungkin gandengan tangan dan masih banyak kemungkinan lain lagi.

Sahabatku, dengan menyadari bahwa itu semua adalah kesalahan justru kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena kita menyadari betapa besar kesalahan/dosa yang telah kita perbuat pada masa lalu. Dengan kesadaran semacam ini lah yang akan membangkitkan semangat kita untuk tetap istiqomah.

Keenam, Jika sahabat mencintai seseorang cukup berdo’a kepada Allah bahwa dia adalah jodoh kamu. Kalau pun bukan, terus berdo’a kepada Allah untuk bertemu dengan seorang yang lebih baik daripadanya. Dengan begini ya sahabat, kamu akan lebih ikhlas untuk tidak terikat kepadanya. Kamu akan bisa dengan lega menerima keadaan yang saat ini membingungkanmu. Tidak akan ada pertanyaan “Bagaimana kalau dia bukan jodohku” yang akan mengganggumu. Kamu akan lebih bijaksana dan tenang ketika mendapatkan pertanyaan mengenai jodoh. Cukup katakan dalam hati dan hanya Allah yang mengetahuinya. Tidak ada yang lebih baik daripada itu.

Ketujuh, terus memperbaiki diri. Ya dengan sibuk memperbaiki diri kamu akan lupa dengan tujuan sebelumnya..ehm dalam artian tujuan pacaran ya... Allah telah berjanji kan kepada hambanya, bagi laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik atau sebaliknya. Masa’ kamu nggak ingin menjadi perempuan yang  baik untuk laki-laki yang baik?

Sahabatku, kalau dia adalah laki-laki yang baik menurutmu belum tentu baik bagi Allah. Agar Allah mempertemukan dengan laki-laki yang baik maka kamu juga perlu menjadi yang lebih baik. Insya Allah semua akan ada hikmat dari penantian dan kesendirianmu. Ya, semua itu ditujukan karena Allah bukan karena ingin mendapatkan dia ya. Jangan salah niatnya..hehe

Sahabatku, saya sendiri bukan seorang yang sempurna, seutuhnya baik atau pun yang baik-baiklah ya. Ini semua karena Allah Maha Baik menutup aib-aibku. Kalau saja aib itu terlihat dan berbau, saya yakin sahabat pasti tidak mau mendekatiku. Semua itu karena kebaikan-Nya, Masya Allah. Semua orang  berhak untuk menjadi lebih baik seperti halnya dengan sahabatku semua.

Mari bersama-sama untuk berbenah diri agar kelak saat berumah tangga kita semua bisa menjaga keluarga kita karena Allah Subhanallahu wata’ala. Dan berharap bisa berkumpul di surga dengan wajah berbinar-binar. Masya Allah, membayangkan surga aja sudah bahagia bagaimana rasanya kalau benar-benar tinggal disana, iya kan? Tentu sahabatku, itu semua adalah impian. Namun kita masih harus melewati terminal tempat pemberentian selanjutnya. Sedangkan sekarang saja kita sedang berhenti di terminal dalam waktu yang singkat. Astaghfirullah. Maka dari itu, menyadari bahwa dunia ini adalah fana sangatlah penting. Dari sini tabungan untuk akhirat mulai dipupuk.

Jika mengingat hal semua itu, jadi teringat dengan lemahnya diri ini ya sahabat. Memegang bara api saja sudah kepanasan, tentu merasakan hawa panas api neraka pasti tidak kuat. Na’udzubillah min dzalik. Maka dari itu, saya ingin sekali mengajak sahabat untu berbuat baik. Fastabiqul khoirat 🙌🏃

Okay kembali ke topik di atas ya, sahabat masalah jodoh sudah Allah atur dan ditulis dalam Lauh Mahfudz. Tergantung mau bagaimana kita menjemputnya, mau yang baik nan halal atau yang buruk dan penuh dosa. Semua itu pilihan sahabat, kalau saya sih tentu milih yang baik ya.

Semoga, sahabat yang belum berjumpa dengan jodohnya segera dipertemukan dengan jodohnya termasuk saya (eh?! Hehe). Selalu istiqomah dalam memperbaiki diri. Aamiin

Bagi yang sudah bertemu dengan jodohnya, semoga tidak lupa perannya dalam berumah tangga. Semoga terus menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Aamiin

Kali ini tulisan saya panjang sekali ya, hehe. Tidak apa-apa kan sahabat, berbagi ilmu kan sebuah kewajiban seorang muslim. Mungkin cukup dulu ya, takutnya nanti malah pada baper. Hehe

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh