Rabu, 07 Maret 2018

Pelarangan Cadar?

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Beberapa waktu lalu terdengar keputusan yang membuat saya pribadi shock saat mendengarnya, pasalnya universitas yang menjadi tempat saya menimba ilmu harus menerapkan pelarangan cadar. Banyak berita simpang-siur bukan karena isunya hoax atau tidak melainkan alasan penerapan cadar itu sendiri. Saya tidak akan membahas mengenai siapa yang memberikan kebijakan dan siapa saja yang ikut campur di dalamnya namun saya akan lebih mengkritisi mengenai alasan pelarangan cadar tersebut.

 Hingga saat ini cadar menjadi momok yang kurang baik di mata masyarakat. Cadar masih diidentikkan dengan pakaian budaya orang Arab sehingga ada sebagian orang di Indonesia tidak setuju jika cadar diterapkan di Indonesia karena tidak sesuai dengan budaya . Tidak hanya itu, bahkan sebagian orang lainnya juga mengidentikkan cadar dengan aliran yang radikal. Subhanallah

Baiklah, jika cadar adalah pakaian orang radikal tentu mereka sudah melakukan aksi radikal yang membahayakan masyarakat dan pemerintah, bukan? Namun, jika kita melihat langsung maka kita tidak akan menemukan bahwa orang bercadar adalah orang-orang radikal yang notabene melekat dengan teroris. Sangat disayangkan, sebagian masyarakat di Indonesia juga berpandangan bahwa orang bercadar adalah bagian dari ISIS. Astaghfirullah, begitu banyak stigma negatif yang masih melekat pada orang bercadar di Indonesia.

Masya Allah, saya sendiri sampai tidak sadar bahwa masih banyak orang yang berpikiran semacam itu. Bahkan saya pribadi tidak terfikirkan bahwa orang diluar sana memiliki cara pandang semacam itu. Dan yang membuat saya tidak habis pikir adalah saya melihat sebuah berita bahwa pelarangan bercadar adalah sesuai dengan arahan menag yang menginginkan kampus Islam menerapkan Islam moderat.

Astaghfirullah, jujur saya tidak terpikirkan bahwa akan ada yang bilang Islam moderat, Islam Radikal maupun Islam Liberal dan ditambah lagi akhir-akhir gencar yang menerapkan Islam Nusantara. Saya tidak habis fikir dengan penggolonngan Islam semacam ini. Jika kita mempelajari Islam secara kaffah maka kita akan tau bahwa Islam itu ya Islam, tidak ada penggolongan semacam itu. Dan setelah Rasulullah dan muncurlnya umaro’ yakni para imam 4 mahdzab, tidak ada bukan Islam hambali atau sejenisnya? Tidak ada kan? Kenapa banyak orang yang termakan dengan penggolongan semacam itu, kita disini adalah muslim. Mempelajari pedoman yang sama yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits namun masih diantara kita yang sibuk dengan pemikiran kita masing-masing. Jika Anda ingin berijtihad maka kembali melihat diri kita, kita pantas tidak untuk berijtihad? Orang mujtahid harus memiliki kemampuan berpendapat yang seimbang dan berlandaskan ilmu yang dimiliki. Orang semacam ini tidak boleh sembarangan karena jika memutuskan sesuatu hanya dasar logika memungkinkan bisa menyesatkan diri.

Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa cadar bukanlah budaya dari bangsa Arab melainkan sudah dianjurkan dalam Islam. Memang dalam Al-Qur’an dan hadits tidak ada penggunaan cadar melainkan berdasarkan pendapat dari imam 4 mahdzab bahwa cadar ini hukumnya sunnah (dianjurkan). Sebelum membahas mengenai cadar, saya akan membahas sedikit mengenai hijab bagi perempuan. Saya ingin mengingatkan kembali pakaian seorang muslimah menurut Islam.
Perempuan dalam Islam (muslimah) notabene adalah orang yang dimuliakan bahkan sangat mulia jika melaksanakan perintah Allah dan menjauhi yang dilarang-Nya. Bahkan seorang perempuan yang menjadi sudah menjadi istri adalah pakaian bagi suaminya sehingga harus menjaga diri dengan baik. Kadang kita tidak mengerti bagaimana menjadi muslimah yang baik, ukhtyfillah manusia itu tidak ada yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kesalahan namun untuk mencapai muslimah yang baik maka kita harus mengusahakannya.

Pakaian dalam Islam tidak hanya sekedar menutup diri saja melainkan juga sebagai wujud ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Dalam Qur’an surat Al- A’raf ayat ke 26, Allah berfirman bahwa Hai Anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada pakaian untuk menurupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.

Perintah Allah untuk menutup aurat itu sudah jelas sehingga haram hukumnya bagi perempuan yang sudah baligh keluar dengan membuka aurat. Di ayat lain juga mengatakan mengenai aurat yakni pada Qur’an surat An-Nur ayat 31, Allah berfirman ‘Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak padanya dan hedaklah mereka menutupkan kain jilbab ke dadanya.

Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah shallallahi ‘alaihi wassalam bersabda kepada Asma’ radhiallahu ‘anhu, “Wahai Asma’ sesungguhnya wanita itu apabila telah dewasa tidak layak kelihatan darinya kecuali ini dan ini (sembari beliau menunjuk ke wajah dan kedua tangan beliau)”

Jadi sudah jelas, kan? Bahwa perempuan itu harus menurup aurat dengan sempuran yakni hanya menampakkan wajah dan tangan sehingga sepantasnya untuk mememperbaiki diri kita ya ukhtyfillah, jangan sampai membentuk tubuh. Dalam hadits juga mejelaskan mengenai masalah ini yakni  hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “Ada dua golongnan dari penduduk meraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: satu, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti seekor sapi untuk memukul manusia, dan dua, para wanita berpakaian telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya walaupun baunya tercium selama perjalamam sekian dan sekian.
Naudzubillah min dzalik ya, sebaiknya sedini mungkin untuk segera hijrah. Yang dulunya suka berpakaian ketat dan memakai celana jeans, sekarang pindah dengan gamis yang lebih syar’i. Yang dulunya jilbab masih keliatan bentuk (maaf) dadanya sekarang berhijrah mengenakan khimar. Masya Allah, indah banget loh sebenarnya pakaian perempuan itu.

Meskipun sudah menggunakan pakaian syar’i sebaiknya hindari tabaruj yakni berhias atau keliatan menonjol. Sebab, tabaruj sama saja dengan yang dilakukan oleh orangg-orang jahiliyah bangsa Arab terdahulu. Maka dari itu, mari kita koreksi lagi ya ukhtyfillah, tujuan kita berpakaian syar’i itu untuk siapa sih? Bagaimana niat yang benar? Seorang muslimah itu sangat mulia termasuk rasa malu itu sendiri. Malu bisa menghindarkan diri kita dari rasa ujub, riya’ bahkan sombong. Dengan malu, muslimah akan terlihat lebih mulia di hadapan Allah.

Baiklah, setelah membahas mengenai berpakaian muslimah yang benar dan sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-hadits, saatnya untuk mengulas mengenai cadar. Kan penulis bilang bahwa aurat perempuan wajah dan tangan jadi nggak harus pakai cadar, dong? Benar, seperti yang sudah saya bilang diatas yang uktyfillah bahwa cadar hukumnya dianjurkan atau sunnah. Jadi kalau ada yang nggak make cadar ya silahkan dan yang pake cadar, silahkan malah jauh lebih baik.

Esensi cadar saat ini antara tren bagi yang sedang hijrah dan terkesan radikal bagi yang belum mengerti ilmunya. Walaupun banyak yang pro dan kontra mengenai mengenakan cadar sebaiknya kita saling menghargai. Seperti imam 4 madzab, mereka berbeda pendapat namun mereka saling menghargai dan tidak ada pertikaian, kenapa kita tidak bisa belajar dari mereka kan?

Memang cadar tidak diwajibkan bagi seorang muslimah namun imam 4 mahdzab mengatakan bahwa cadar sangat dianjurkan dalam kitabnya. Namun juga ada sebagian yang mengatakan bahwa hukum cadar adalah wajib.

Sebaiknya untuk menilai orang kita harus mengetahui terlebih dahulu ilmunya, bukan? Istilahnya yakni tabayyun, mencari tahu kebenarnya sebelum menyebarkan atau memberitakan ke orang lain. Agar lebih jelas bagaimana hukum cadar sebenarnya bagi seorang muslim, berikut beberapa pendapat mengenai cadar berdasarkan 4 mahdzab:

1. Mahdzab Hanafi
Mahdzab Hanafi mengatakan bahwa mengenakan cadar hukumnya dianjurkan (sunnah) bahkan menjadi wajib apabila dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Ulama-ulama mahdzab hanafi juga mengatakan hal serupa seperti dalam matan Nuruul lidhah bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecual wajah dan telapak tangan dalam serta telapak yangan luar, ini pendapat lebih shahih dan merupakan mahdzab kami.

Al imam Muhammad ‘Alaa-uddin dalam Ad Duur Al Muntaqa mengatakan bahwa seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dala,. Dalam suatu riwayat juga telapak tangan luar. Begitu pula dengan suaranya namun suara bukan aurat ketika dihadapan wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah maka dilarang menampakkan wajahnya.

2. Mahdzab Maliki
Mahdzab Maliki berpendapat bahwa aurat seorang perempuan adalah semuanya kecuali wajah. Sedangkan mengenakan cadar hukumnya adalah sunnah dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama mahdzab ini mengatakan bahwa seluruh tubuh perempuan adalah aurat.

Berdasarkan ulama mahdzab ini, Az Zarqaani mengatakan dalam kitabnya yakni Syahr Mukhtashar Khalil bahwa aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan termasuk suara. Wajah dan telapak tangan dalam maupun luar boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki maupun wanit baik sekedar melihat maupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah  atau lelaki melihat wanit untuk berlezat-lezat.

Ulama besar seperti Al Qurthubi juga berkata bahwa ibnu Juwaiz Mandad (ulama besar Maliki) berkata jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya.
Sedangkan ulama Maliki yang mengatakan wajib adalah Al Hathab dalam kitabnya Mawahib Jaliil yakni ketahuilah jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya.

3. Mahdzab Syafi’i
Madzab syafi’i tidak hanya mengatakan bahwa cadar hukumnya sunnah melainkan juga wajib. Seperti perkataan imam syafi’i mengenai cadar, ‘Dan wanita berbeda dengan lelaki (dalam kontek pakaian ihram) maka wanita ihramnya di wajahnya sedangkan lelaki di kepalanya. Maka lelaki boleh menutup seluruh wajahnya tanpa harus dalam kondisi darurat, namun hal ini tidak berlaku untuk wanita. Dan wanita jika ia nampak pada lelaki ajnabi (bukan mahram) dan ingin menutup diri (berhijab) dari manusia maka boleh baginya untuk menjulurkan hijabnya atau sebagian kerudungnya dari atas kepalanya dan ia merenggangkan dari wajahnya sehingga ia bisa menutup wajahnya akan tetapi tetap rennggang kain dari wajahnya namun tidak boleh mengenakan niqab.

Imam Syafi’i juga mengatakan bahwa boleh bagi wanita (yang sedang ihram) untuk merenggangkan pakaiannya dari wajahnya sehingga ia menutup diri dengan pakaian tersebut dan ia merenggangkan khimarnya lalu menjulurkannya di atas wajahnya dan tidak menyentuh wajahnya.

Dan Al-Ghazali rahimanullah mengatakan,”Jika seorang wanita keluar maka hendaknya ia menundukkan pandangannya dari memandang laki-laki. Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat bagi wanita sebagaimana wajah wanita yang merupakan aurat bagi laki-laki maka diharamkan untuk memandang jika dikhawatirkan fitnah dan jika tidak dikhawatirkan fitnah maka tidak diharamkan. Karena para lelaki senantiasa terbuka wajah-wajah mereka sejak zaman-zaman lalu dan para wanita senantiasa keluar dengan cadar. Kalau seandainya wajah adalah aurat bagi para wanita maka tentunya para lelaki diperintahkan untuk bercadar atau dilarang untuk keluar kecuali karena darurat”

Al Imam An Nawawi rahimanullah mengatakan, “ Dan diharamkan seorang lelaki dewasa memandang aurat wanita dewasa asing, demikian juga haram memandang wajahnya dan kedua tangannya tatkala dikhawatirkan fitnah dan demikian juga haram tatkala aman dari fitnah menurut pendapat yang benar.
Ibnu Qasiim rahimanullah mengatakan, “Dan seluruh tubuh wanita mereka adalah aurat kecuali wajahnya dan kedua telapak tangannya. Dan ini adalah autaynya dalam shalat, adapun di luar shalat maka auratnya adalah seluruh tubuhnya.

4. Mahdzab Hambali
Mahdzab hambali mengatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh termasuk pula dengan kukunya. Hal ini disampaikan oleh Imam Ahmad Ibnu Hambal dam Zaadul Masiir. Bahkan ulama mahdzab Hambali juga mengatakan yang sama yakni aurat perempuan adalah seluruh tubuh

Jadi ya ukhty, jelas ya mau mengenakan cadar maupun tidak itu sudah menjadi keputusan ukhtyfillah. Yang terpenting saat ini adalah gadhul bashar dan tetap istiqamah di jalan Allah. Kita sebaiknya saling menghargai selama orang tersebut sesuai dengan syari’at ya. Kalau sudah melenceng dari syari’at kita harus mengkritik dan mengingatkan serta tidak lupa untuk mendo’akan agar mendapat rahmat serta hidayah-Nya.

Kamis, 22 Februari 2018

Andaikan Aku Adalah Golongan Perempuan Tariim

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh sahabat fillah
MasyaAllah bertemu lagi ya sama author yang lamaaaa banget buat update tulisan. Kalau tidak atas dorongan adikku yang cantik disana mungkin belum update-update tulisan kali ya ๐Ÿ˜…

Baiklah, untuk memulai ceritaku kali ini sebenarnya secara pribadi ingin menceritakan perjalanan hijrah sih. Ehm, mungkin diantara kita sudah sangat familiar dengan kata hijrah untuk beberapa saat ini. Pasalnya hijrah sudah banyak terjadi baik dari orang kalangan biasa sampai artis dan yang menarik perhatian adalah Linsay Lohan yang beberapa waktu lalu sempet heboh karena menggenggam Al-Qur’an dan mengenakan hijab. Masya Allah

Mungkin hijrah sudah saya singgung di tulisan-tulisan yang sebelumnya, namun kali ini hijrah yang saya lakukan adalah bentuk implementasi yang sudah sempat saya singgung di tulisan 2017 lalu. Ya, yakni cadar, Alhamdulillah dengan kehendak Allah hidayah itu menghampiri saya dan mendorong saya untuk mengenakan cadar. Sebenarnya untuk mengenakan cadar sudah ada niatan sejak 2016 lalu namun belum ada kekuatan mental agar sanggup mengenakan cadar. Akhirnya sebagai solusi pengganti cadar saya kemana-mana mengenakan masker.

2018 menjadi awal tahun saya mengenakan cadar, hal ini bukan karena sekedar keinginan saja melainkan ada alasan yang kuat untuk menggunakan selembar kain penutup wajah ini. Alasan mengenakan cadar semakin mengganggu pikiran dan mulai mengusik batin saya pada tahun 2017.

Awalnya saya hanya sekedar ingin mengenakan cadar karena melihat orang bercadar rasanya menenangkan dan terasa adem. Muncul rasa kekaguman pada saat itu, namun lama kelamaan semua itu berubah. Saya merasakan bahkan apa yang Rasulullah sabdakan itu memang benar adanya yakni perempuan adalah fitnah bagi laki-laki di akhir zaman. Ketika keluar rumah, rasanya semakin tidak nyaman karena sering digoda oleh laki-laki karena paras ini. Jujur, saya sangat bersyukur Allah mengkaruniai paras yang sempurna (maksudnya tidak mengalami cacat) namun disisi lain paras ini adalah sebuah cobaan bagi saya. Dengan paras ini, tidak sedikit laki-laki yang tergoda dan akhirnya muncul rasa suka. Muncullah rasa bersalah bahkan setiap digoda laki-laki, di rumah saya menangis mengingat kejadian itu. Rasa bersalah itu karena saya yang menyebabkan mereka berdosa, karena saya membiarkan mereka untuk melihat saya dan akhirnya menimbulkan syahwat, astaghfirullah. Mungkin pernyataan tersebut dianggap lebay untuk sebagian orang namun ini adalah apa yang saya alami.

Membicarakan cadar, saya sangat bersyukur saat ini cadar ataupun pakaian syar’i sudah bukan menjadi hal yang tabu di masyarakat. Namun, yang menjadi kesalahan adalah sebagian orang banyak yang menggunakan penampilan ini menjadi terkesan tabaruj karena dikenakan untuk mendapatkan pujian –semoga mereka segera mendapatkan hidayah, aamiin-. Ya, banyak orang yang mengenakan cadar atau pakaian syar’i hanya sekedar tren fashion. Kok bisa saya bilang semacam itu sih? Saya memang baru mengenakan cadar namun fenomena ini datang bertepatan ketika saya mengenakan cadar. Padalah esensi cadar itu tidak hanya sekedar fashion saja melainkan lebih dari itu yakni sebagai menjaga diri dari pandangan lawan jenis.

Fenomena yang mulai meracuni bagi para muslimah yang bercadar adalah foto selfie, Ya Allah fenomena ini sudah sangat menjamur bahkan banyak kok selebgram yang bercadar dengan alasan langkah tersebut merupakan dakwah –semoga Allah segera menyadarkan mereka-. Tahu tidak ukhty? Di luar sana banyak orang berpenyakit, orang yang mudah terpancing syahwatnya hanya karena melihat mata dari orang bercadar. Mereka banyak yang merasa penasaran bahkan muncul birahi untuk ‘maaf’ sex dengan orang bercadar karena rasa penasaran tersebut. Na’udzubillah min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari orang-orang semacam ini. Aamiin. Maka dari itu, jika bercadar sebaiknya benar-benar menjaga diri. Berpenampilan sewajarnya dan tidak tabaruj (bagian mata dihias mulai dari celak yang meruncing kayak cleopatra, kontak lensa, alis yang dipercantik dan yang lainnya). Sebaiknya ketika keluar tidak mengenakan riasan yang berlebihan cukup sewajarnya saja seperti bedak dan pelembab bibir, kalaupun bercadar di bagian mata tidak perlu dihias dengan tampilan yang aneh-aneh agar terlihat cantik.

Jika membahas cadar atau niqob, saya jadi teringat dengan perempuan-perempuan Tariim yang ada di Yaman. Masya Allah, mereka itu ibarat perempuan-perempuam surga yang sedang berjelajah di dunia ini. Akhlaknya sangat mulai, perilakunya sangat anggun dan tutur katanya yang lembut. Cerminan muslimah yang benar-benar sangat menginspirasi setiap muslimah di dunia termasuk saya pribadi.
Berdasarkan cerita yang pernah saya dengar, mereka bukanlah seperti perempuan pada umumnya. Obrolan yang mereka bicarakan tidak terlepas dari masalah tauhid mulai dari simak Al-Qur’an, membahas mengenai hadis hingga fiqh. Masya Allah luar biasa indah kan? Andaikan saya disana untuk sehari saja, saya sangat bersyukur karena bisa berkecimpung dengan calon penghuni surga.

Menariknya dari perempuan Tariim adalah mereka tidak pernah menyebutkan namanya karena tidak ingin disalahgunakan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab untuk memfitnahnya. Tidak hanya itu, mereka pun selalu gadhul bashar dan memilih jalan lain ketika disana terdapat seorang atau sekumpulan ikhwan. Masya Allah mulai sekali kan akhlak mereka.

Jujur saya sangat iri dengan mereka mulai dari ilmu hingga akhlak mereka, masya Allah. Iri untuk meningkatkan ibadah boleh kan? Hehehe. Iya gapapa kok karena disanalah letak iman kita. Keinginan kita untuk charge iman untuk lebih dekat dengan-Nya. Namun yang paling penitng adalah memikirkan diri sendiri, sudah sampai mana amalan hari ini yang sudah dikerjakan, dosa apa yang sudah dilakukan dan masih banyak lagi. Sebaiknya perbanyak istighfar karena istighfar itu akan memberikan jalan keluar bagi yang mengamalkannya, Insya Allah.

Dari perempuan-perempuan Tariim kita bisa belajar banyak hal karena disana kita bisa melihat sosok Aisyah, Fatimah, Khadijah dan perempuan perempuan sholehah dijaman para Nabi. Sungguh mulai akhlak yang mereka miliki, rasanya ingin seperti mereka. Disisi lain, saya juga sangat bersyukur karena lahir di negara yang mayoritas Islam dan masih dimudahkan untuk menjalankan ibadah.

Sebagai introspeksi, saya yang sedang hijrah untuk bercadar ini juga masih banyak memiliki kesalahan. Tidak lantas orang bercadar itu berakhlak mulia sehingga harus sempurna, namun semakin menjaga diri maka akhlaknya pun juga harus diperbaiki menjadi lebih baik lagi. Terkadang kita menjumpai orang bilang, “Orang tuh jadi diri sendiri nggak perlu berpakaian gede tapi jadi orang lain” Well, saya mendengar perkataan ini dari cerita seorang teman, bukankah untuk jadi diri sendiri seorang muslimah harus berpakaian yang diridhai Allah ya? Ya, menjadi diri sendiri seorang muslimah adalah berpakaian syar’i dan mampu menjaga dirinya dari pandangan laki-laki. Gapapa akhlak belum bener sempurna ilmu masih sedikit tapi setidaknya kita sudah melaksanakan perintah Allah sebagai seorang muslimah. Tetap hamasah ya sahabat fillah ๐Ÿ˜˜

Mungkin sebagian orang belum bisa seutuhnya menerima orang menggunakan cadar dan ada pula yang masih menganggap orang bercadar itu teroris atau perempuan fanatik. Ya, orang bercadar orang berpakaian syar’i memang fanatik. Fanatik kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada yang salah kan? Untuk bisa meningkatkan pandangan masyarakat bahwa orang bercadar itu bukan apa yang seperti yang mereka sangka adalah kita memberikan contoh yang baik mulai dari perilaku, tutur kata maupun yang lainnya. Dengan demikian, kita sebagai orang bercadar Insya Allah bisa diterima dengan baik di lingkungan masyarakat. Pada umumnya, orang bercadar dianggap sebagai seorang teroris atau yang lain karena mereka sangat menjaga jarak dan lebih banyak berdiam diri di rumah, hal ini nggak salah ukhty fillah namun ingat bahwa kita juga punya tetangga sehingga kita harus bersosialisasi dan tetap menjaga ukhuwah. Menjadi orang ramah, menjaga perilaku dan bertutur baik dalam masyarakat, Insya Allah masyarakat bisa menerima dengan baik.

Jadi, masih ragu untuk hijrah? Tak apa hijrah penampilan dulu, akhlak nanti sambil jalan kok. Dari luar nanti dengan sendirinya ingin memperdalam agama, memperbaiki akhlak dan bonusnya dapet temen yang jauh lebih sholehah. ๐Ÿ˜

Mungkin, itu dulu kali yang bisa saya ceritakan. Yah walaupun cuman sekelumit curhatan sih lebih tepatnya. ๐Ÿ˜… Afwan ya sahabat fillah kalau ada kesalahan kata atau yang lainnya, itu sepenuhnya kesalahan dari saya pribadi ๐Ÿ™ Semoga Bermanfaat๐Ÿ˜Š
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabaratuh

Sabtu, 14 Oktober 2017

Saya Akan Gagal Sebagai Perempuan Jika...

Assalamu’aikum warrahmatullahi wabarakatuh

Maafkan kalau isi blog saya banyak menceritakan pengalaman diri saya sendiri. Karena saya menuliskan semua itu sebagai pengingat bahwa dulu saya pernah berjanji ini, ini dan ini. Dengan menuliskannya disini, saya bisa mengingat kembali dan mencoba mengoreksi diri saya apa yang sudah saya tinggalkan. Jikapun ada yang saya tinggalkan, saya mencoba untuk kembali menjadi diri saya yang dulu. Tidak hanya untuk saya pribadi saja, namun saya juga ingin berbagi ke temen-temen semoga dengan tulisan saya juga bisa menginspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
Kali ini saya menulis sesuatu hal yang sangat sensitif. Mungkin beberapa akhwat juga pernah melakukannya dan merasakan hal yang sama, maybe. Ini adalah sebuah tulisan untuk mengingatkan diri saya ketika berhadapan dengan lawan jenis. Yang saya maksudkan disini adalah pujian. Ya, mungkin kita semua pernah sekali, dua kali atau lebih mendapatkan pujian dari laki-laki dan pastinya itu hanya gombal saja atau bisa dibilang modus.

Temen-temen, saya yakin kecantikan kalian itu memang berbeda dengan bidadari surga jika kalian patuh dengan Allah. Walaupun kita banyak dosa, selagi kita punya kesempatan kapan kita bisa bertaubat.

Baiklah, kembali ke topik sebelumnya bahwa kadang kita terlena dengan pujian seorang laki-laki. Kita terlena dan secara tidak sadar kita menjurus ke ujub. Astahgfirullah. Kita menganggap bahwa pujian adalah pujian dan membuat kita semakin melayang dan merasa kurang. Dengan rasa yang ingin tampil lebih baik dan selalu menampakkan diri ke sosial media dengan cara mengupload foto selfie agar dapat pujian dari laki-laki, itu apa? Siapa yang bakal mendapatkan pahala dari itu? Justru perilaku seperrti itu malah menenggelamkan diri kamu sebagai perempuan.

Jujur, saya merasa gagal ketika ada laki-laki yang baik sengaja ataupun tidak sengaja memuji, melihat dengan tatapan yang berbeda dan sebagainya. Saya gagal jadi seorang perempuan yang sesuai dengan perintah Allah. Kenapa gagal? Karena, saya seorang perempuan akhir zaman yang mana perempuan akhir zaman adalah fitnah terbesar bagi laki-laki. Kalau saya saja sudah membuat mereka terlena, apalah diri ini ternyata fitnah itu benar-benar kejam. Saya merasa berdosa ketika laki-laki  tidak bisa menjaga pandangannya karena saya. Saya merasa hina saya merasa gagal saya merasa begitu menyedihkan dihadapan Allah ketika dihadapkan dengan pujian semacam itu.

Kenapa perempuan akhir zaman itu adalah fitnah bagi laki-laki, saya tidak merendahkan diri saya ataupun kalian justru itu mengingatkan saya bahwa penghuni neraka paling banyak adalah perempuan. Adapun kejelasan mengenai perempuan sebagai berikut,

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “ Aku tidaklah meninggalkan cobaan yang lebih membahayakan bagi laki-laki selain dari (cobaan berupa) wanita”  Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kenapa perempuan itu begitu menakutkan, karena sebenarnya perempuan itu istimewa. Perempuan itu berlian dan perempuan dunia itu bahkan jauh lebih cantik daripada bidadari surga. Tapi jika perempuan sudah terjerumus dalam kesesatan, Subhanallah itu menjadi fitnah bener-bener fitnah yang paling nyata ketika di dunia.

Berlenggak-lenggok dengan pakaian ketat, rambut tergerai, riasan tebal, perhiasan dimana-mana bahkan pakaiannya pun sangat minim. Naudzubillah, ini lah yang menjadi salah satu perilaku yang harus dihindari oleh seorang muslimah.

Sudah saya singgung bahwa perempuan itu berlian, tentu kita sudah mendengarkan kisah Khadijah. Dari Khadijah kita bisa belajar banyak dari beliau untuk menjadi istri yang shalihah, seorang muslimah yang taat kepada Allah, dia adalah berlian. Maka dari itu, untuk menjadi berlian kita juga harus menjaga diri kita sendiri, menjauhi apa yang Dia larang, menjaga jarak dengan laki-laki bukan mahramnya, taat kepada suami selama suami tersebut taat kepada Allah dan masih banyak lagi.

Itu lah salah satu kesedihan saya, saya sedih saya takut ketika laki-laki memuji tapi saya lebih takut ketika Allah membenci saya.

Tulisan ini adalah cerita kesedihan saya yang kesekian dan kesekian. Saya menuliskannya karena saya ingin berbagi karena saya ingin mengingatkan diri saya pribadi dan kalian. Maafkan jika tulisan saya menyinggung kalian

Dari beberapa tulisan saya, apakah temen-temen ada masukan? Atau temen-temen ukhtifillah bisa berbagi pengalamannya tentang hal yang sama kepada saya ๐Ÿ˜Š

Semoga yang membaca tulisan ini selalu dirahmati Allah subhanahu wata'ala. Aamiin

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Jumat, 15 September 2017

Cantikmu Buat Apa Wahai Muslimah?

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sepertinya saya belum membahas mengenai kecantikan ya disini? Baiklah, saya mau curhat sedikit mengenai hal tersebut.

Apa kalian merasa cantik? Pasti semua orang merasa dirinya cantik, bukan? Kalau kata orang tuaku sih aku cantik. Hehehe, iya iyalah namanya orang tua iya kan? Pasti akan bilang seperti itu karena memang menganggap anaknya lebih cantik daripada yang lainnya. Devinisi cantik sebenarnya sangat luas ya, namun cantik saat ini banyak berkiblat dengan gaya orang Korea padahal cantik itu bisa natural aja asalkan kalian merawat diri secara rutin yang penting bersih, menurutku itu sudah cantik kalau melihat dari fisik ya. Dan sekarang ini, banyak kok perempuan yang wajahnya cantik, merah merona, alisnya rapi, putih dan banyak lagi deh. Bahkan semua kelihatan sama saja, saya pun kadangkala kesulitan juga untuk membedakan. Tapi coba deh dipikirkan kembali, cantik kalian itu sebenarnya buat apa sih?

Kadang saya tidak habis pikir dengan perempuan terutama muslimah ya yang zoom in foto selfie dia langsung di upload di sosial media. Mungkin bagi dia sebuah kepuasan diri ya atau bisa jadi dia menganggap ‘ini kan fotoku, kamu mau anggep apa aja ya terserah kamu’ Astaghfirullah. Banyak hal yang perlu diketahui kalau foto kita bisa menyebabkan sebuah bencana baik buat orang lain ataupun buat diri sendiri.

Foto yang diperlihatkan ke orang lain bisa saja menimbulkan kebencian, iri atau bahkan nafsu bagi laki-laki yang melihatnya. Kita tidak sadar apa yang telah kita perbuat namun malaikat tidak tidur begitu pula Allah yang 24 jam nonstop ngawasin. Bukankah itu mengakibatkan dosa? Iya, karena sudah membuat orang lain berdosa disebabkan oleh foto diri kita. Nggak salahnya kan untuk menjaga diri dan menahan untuk tidak mengupload ke sosial media. “Apa urusanmu ikut campur?” Mungkin itu yang kalian lontarkan pada saya saat ini, tapi saya hanya ingin mengingatkan kalian demi kebaikan dan keselamatan kalian.

Jujur ya, saya terkadang merasa risi ketika seorang laki-laki bilang kalau saya cantik. Pede sekali ya saya bisa bilang begitu. Ehhmm, itu kembali lagi penilaian kalian terhadap saya namun disini saya cuman ingin berbagi pengalaman saja. Dan saya juga kurang tahu, apakah orang itu bercanda atau bagaimana namun menurut saya kalau laki-laki itu sudah berkata semacam itu berbarti dia telah melibatkan nafsunya. Astaghfirullah.

Bahkan sempat saya berfikir untuk memakai cadar, namun saya belum siap karena saya belum kuat mental untuk mendapatkan penilaian dari orang lain terutama orang terdekat saya. Maka dari itu, saya ganti menggunakan masker ketika keluar. Saya merasa takut ketika orang (lawan jenis) menatap saya, takut disini bukan takut mau diapain ya tapi takut karena Yang Maha Esa. Saya takut akan menyebabkan orang tersebut dosa karena saya, makanya saya berhenti upload diri saya sendiri atau nampakin muka di depan umum. Paling keluar cuma bedakan sama memakai lipstik tipis. Toh, kecantikan seseorang itu tidak perlu diumbar kan. Lagian pada akhirnya kecantikan itu hanya sementara. Ya, kalau kita sudah tua kulit akan mengeriput tentu kita bakal dikatain tua dan sudah tidak menarik lagi. Tapi, kalau kita mempercantik akhlak, Insya Allah dimata Allah kita cantiknya luar biasa. Insya Allah.

Teman-teman muslimahku yang cantik, upload foto selfie atau foto-foto yang memperlihatkan kita bisa menyebabkan penyakit ‘ain loh. Penyakit ‘ain??? Yang pernah saya denger, penyakit ini datangnya lebih cepet dari takdir. Misalkan nih ya, banyak tuh ibu-ibu muda yang lagi seneng-senengnya sama bayinya sampai nggak dasar di upload dengan jumlah yang banyak. Eh tiba-tiba bayi kecil kita tersebut menangis atau demam atau penyakit yang tidak diketahui. Itu bisa disebabkan oleh penyakit ‘ain yang datangnya dari orang yang memuji atau iri terhadap bayi kita. Maka dari itu, ketika kita kagum sama seseorang sebaiknya mengucapkan “Masya Allah atau tabarakallah”

Itu contoh simpelnya yah, atau bisa terjadi pada diri kita. Yang biasanya kita tidak pernah berjerawat eh kok semakin hari semakin banyak. Itu bisa saja karena foto yang kita sebar di sosial media. Ini lah salah satu alasan kenapa saya tidak mau upload atau menampilkan wajah saya. Hehe. Duh gimana gitu ya, sayang rasanya kalau wajah rusak karena penyakit ‘ain. Besok kalau ketemu dengan calon suami bagaimana, iya kan? Hehehe. Abaikan yang satu ini :D
Selain menyebabkan penyakit ‘ain, juga bisa menyebabkan kejahatan lainnya. Tentu kita sering dong mendengar cyber crime di dunia maya. Bisa saja, foto pribadi kita digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan. Saya pernah memergoki seseorang di facebook yang menggunakan foto teman saya. Bahkan saya sendiri juga pernah mengalami hal yang serupa namun saya tidak ingin menceritakannya karena itu wilayah privasi saya dan menyangkut orang lain. Takutnya malah ghibah kan malah bahaya. Hehe.

Yang membuat saya sedih bahkan menjadi sebuah tamparan keras bagi saya adalah begitu mudahnya seorang perempuan menyibukkan diri hanya karena kecantikan namun tidak sibuk untuk memperbaiki diri agar lebih cantik akhlaknya. Mungkin bukan saya saja, mungkin kalian juga berpikiran hal yang sama dengan saya? Saya merasa takut ketika menghadap di akhirat kelak ketika kita berada di padang mahsyar. Dulu yang kita banggakan di dunia, tidak ada artinya di akhirat kelak. Astaghfirullahal’adzim.

Kadang kita juga merasa lalai, kita pengennya dapet seorang laki-laki yang bisa menjaga pandangannya. Tapi kita sendiri yang menyebabkan seorang laki-laki tersebut tergoda karena foto selfie kita sendiri. Kok kesannya egois banget ya. Ehhm...kembali lagi nih soal jodoh. Duh lagi-lagi balik lagi ke yang satu ini, nggak apa-apa deh disinggung dikit. Kita kan sering mendengar kalau jodoh itu cerminan diri, mau gitu laki-laki yang suka mantengin foto selfie perempuan lain? Kita marah laki-laki (suami) kita ketika lihat jejeran foto selfie orang lain, sedangkan kita malah suka cekrek selfie upload cekrek selfie upload -__- bukankah imbang ???

Biar imbang kebaikannya, kita ngaca sama diri sendiri kita. Kita bersolek merawat diri itu buat siapa? Kalau yang sudah berpasangan halal, mulia bener ini perempuan selalu dandan cantik buat suaminya. Lah kalau yang single? Kalau yang single, merawat atau mempercantik diri itu penting karena kodratnya perempuan memang selalu bersih ya. Nah, bisa juga buat persiapan kalau menikah kelak. Asalkan dandannya nggak menor aja sih biar nggak memikat orang lain. Tapi beda kalau udah cantik dari bayi, mau dandan sama nggak pasti sama aja kan? Solusinya ya menjaga diri, udah gitu aja sih.

Saya cuman bisa menghela nafas, soalnya ini juga sebagai pengingat diri saya pribadi. Kadang ngomong itu gampang sekali ya tapi giliran dilakuin sulitnya subhanallah.  Tapi, nggak ada salahnya untuk belajar. Cantik akhlak dan cantik fisik harus seimbang jangan cuma fokus cantik fisik saja ya. Jangan.

Oya, saya punya sedikit tips buat pada muslimah. Katanya pengen mukanya glowing dan bebas jerawat kan? Kalian bisa melakukan cara-cara berikut: Satu, jaga pola makan. Kedua, minum air putih yang banyak. Ketiga, jaga wudhu. Keempat, shalat malam. Insya Allah, mengamalkan cara tersebut muka bakal berseri-seri dan kelihatan fresh.

Sebenernya ini soal kekhawatiran saya jadi saya curhatnya panjang banget. Kecantikan itu memang bisa melalaikan dan membuat kita terlalu sibuk makanya penting sekali untuk selalu diingatkan biar nggak salah jalan.

Maaf ya kalau ada kalimat yg ngejudge gitu atau yang nggak ngenakin. Maaf banget, silahkan tegur saya kalau saya melakukan kesalahan dalam penulisan. Terimakasih bagi siapa saja yang berkenan membaca, semoga selalu dirahmati Allah subhanahu wata'ala. Aamiin

Rabu, 13 September 2017

Suratku Untuk Kamu, Calon Imamku

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Hai kamu...
Entah siapa saat ini, aku sangat menunggu kehadiranmu. Tahu kah? Rindu menyesakkan dada ketika menyebut namamu dalam do’a tanpa tahu siapa kamu sebenarnya. Namamu, dimana kamu tinggal semua masih rahasia. Tapi kenapa aku begitu rindu ingin berjumpa denganmu? Ini lah semua ujian bagiku yang sedang menunggu sebuah penantian. Aku hanya yakin bahwa Allah akan mempertemukanku denganmu di waktu dan disaat yang tepat.

Kamu...
Apa kesibukanmu sekarang? Aku berharap kamu sibuk bermunajat di setiap sepertiga malam, menyibukkan diri berduaan dengan Pencipta Semesta Alam. Bukankah berbicara berdua dengan-Nya adalah sebuah moment teromantis yang pernah ada di dunia? Aku pun sama, saking cintanya aku pada-Nya aku memohon setiap akan tidur untuk berjumpa dengan-Nya disepertiga malam. Begitu lah cintaku pada-Nya yang bisa aku jelaskan walaupun itu belum apa-apa dibandingkan cinta-Nya kepada hamba yang Ia kehendaki. Aku harap kamu selalu curhat kepada-Nya, karena aku ingin kita berjumpa karena-Nya. Cintailah Dia maka aku akan mencintaimu dengan tulus.

Kamu...
Yang kelak akan menjadi imam dalam rumah tanggaku. Aku harap, kamu sekarang selalu menjaga pandangan karena aku disini juga berusaha menjaga pandanganku walaupun aku juga masih belajar. Begitu banyak perempuan selalu menyapamu tapi yakinlah dari sekian banyak perempuan itu, aku disini sedang menantimu. Aku hanya yakin bahwa kamu tidak akan berpaling kepada perempuan-perempuan itu, karena kamu adalah jodohku. Begitu lah janji Allah, Dia yang telah menuliskan kita di lauh Mahfudz. Tidak mungkin untuk bertukar dengan cara apapun. Saat ini aku sedang berusaha memantaskan diri karena aku ingin berjumpa denganmu dalam keadaan baik. Karena Allah telah berjanji bahwa perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Semoga, kamu selalu menjaga pandanganmu dan sedang memantaskan diri agar kelak kita bisa berjumpa dalam keadaan yang baik sesuai dengan perintah-Nya.

Kamu...
Yang akan menjadi ayah dari anak-anakku. Jadilah seorang laki-laki yang seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassalam. Walaupun aku sadar, bahwa tidak ada orang yang memiliki akhlak sempurna seperti beliau namun sungguh mencontoh akhlak rasul adalah perbuatan yang mulia. Aku sendiri pun selalu rindu ingin melihat beliau terutama ketika sebuah rewiyat menceritakan tentang beliau. Sungguh indah akhlak beliau, jadilah laki-laki yang selalu mengikuti al-Qur’an dan sunnah. Karena kelak kamu akan menjadi ayah dari anak-anakku, karena kamu kelak akan menjadi contoh terbaik bagi keluargamu.

Kamu...
Apakah kamu lelah bekerja? Jika iya, ingat lah bahwa setiap tetesan keringatmu kelak menjadi saksi di akhirat. Maka, jadikanlah segala usaha sebagai ibadah karena kelak ia akan menolongmu. Begitu juga kelak, ketika kamu membanting tulang untuk kebutuhan keluargamu. Niatkan lah itu semua untuk beribadah kepada Allah bukan karena keluargamu karena kelak kamu hanya akan menghadap kepada-Nya dengan beban keluarga dibelakangmu. Tanggung jawabmu sungguh berat tapi disini aku akan selalu bersamamu jika kita sudah dalam ikatan halal.

Hai kamu...
Kapan kamu akan datang? Aku harap kita berjumpa ketika benar-benar mengenal Allah dan Rasulullah dengan baik. Dengan begitu aku mampu mencintaimu dengan sempurna. Sebab, ridha suami adalah ridha Allah bagiku kelak.

Kamu...
Tegurlah aku kelak jika aku melakukan banyak kesalahan. Apabila aku berbicara lantang, lembutkanlah aku dengan caramu. Jika aku kasar, haluskanlah aku dengan sikapmu yang lembut. Jika aku keras kepala, redakan aku dengan do’a-do’amu. Sungguh aku hanya ingin mendapatkan ridha darimu kelak, calon imamku.

Disini, aku akan berusaha belajar dan meneladani dari Khadijah, Aisyah, Maryam dan Fatimah binti Muhammad saw. Karena perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang paling mulia dan sudah dijanjikan surga. Walaupun aku bukanlah perempuan yang memiliki akhlak yang sempurna namun aku akan berusaha menjadi seseorang yang bahkan bidadaripun cemburu padaku. Itu adalah cita-citaku untuk dunia dan akhiratku.

Ini lah suratku untukmu yang entah siapa kamu saat ini. Sampai bertemu di lain waktu, calon imamku. Kita akan bertatap muka saat kita benar-benar diridhai-Nya untuk bertemu. ๐Ÿ˜Š

Sabtu, 02 September 2017

Mutiara Terindah Dari Allah


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Masya Allah, saya sangat tersentuh dengan tausiyah dari Haneen Kira mengenai mutiara terindah. Setiap mendengar tausiyahnya itu selalu meneteskan air mata, kenapa? Begitu berartinya Khadijah bagi Rasulullah Shallallahu wa’alaihi wassalam. Ingin sekali saya membeli buku mengenai perempuan-perempuan yang sudah pasti diberikan rumah oleh Allah di surga seperti Khadijah. Tapi belum kesempetan sampai sekarang, saya ingin mengenal Khadijah lebih dalam lagi. Begitu mulianya Khadijah sampai Allah melalui malaikat Jibril begitu pula malaikat Jibril menitipkan salam untuk Khadijah kepada Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wassalam. Masya Allah

Saya terharu bahkan ingin sekali menginginkan pribadi seperti Khadijah, perempuan mulia yang selalu ada untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dia perempuan yang tegar, dia menghabiskan seluruh hartanya untuk dakwah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, dia perempuan yang lemah lembut kepada beliau. Ya Allah, begitu indah perempuan shalihah seperti Khadijah.

Seperti yang telah saya singgung di atas yaitu mutiara terindah. Tentu sudah tahu siapa mutiara terindah bukan? Ya dialah Khadijah, dia telah diberikan Allah sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara. Masya Allah, adakah dari kalian yang tidak menginginkan seperti Khadijah? Pasti tidak ada kan? Saya bahkan menginginkan hal yang sama tapi kesetiaan beliau, ketaatan beliau, kepatuhan beliau terhadap suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam belum ada yang bisa menggantikan posisi Khadijah di hati Rasulullah. Bahkan ketika Khadijah mau meninggal, dia berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku perempuan tua, aku lemah.  Aku ingin dukung, aku ingin kuatkan perjuanganmu. Kalau aku harus wafat dan tulangku bisa kau jual dengan dinar dan dirham untuk membantu agamamu, lakukan Ya Rasulullah” Bahkan di akhir hayatnya, spirit Khadijah dalam mendukung suaminya tidak pernah pudar sama sekali.

Dialah perempuan yang tidak pernah dilupakan oleh Rasulullah Shallallahi ‘alaihiwassalam. Ketika Rasulullah sudah menakhlukkan Mekkah, Mekkah sudah ditangan Rasulullah. Beliau tidak lantas tinggal di rumah untuk beristirahat, melainkan beliau mendirikan tenda di samping makam Khadijah.
“Aina Mitlu Khadijah?” Kata Rasulullah. “Adakah perempuan seperti Khadijah, dimana aku harus mencari perempuan seperti Khadijah. Dia selalu dukung aku ketika aku disakiti, dia memberikan rasa aku berharga, aku didukung, aku dicintai, aku diterimah dan aku didukung” Beliau tidak pernah melupakan Khadijah, bahkan cintanya tidak pernah pudar. Karena Khadijah adalah perempuan yang selalu disampingnya, dia tidak pernah mengeluh, dia selalu tersenyum dan tersenyum. Dia adalah perempuan yang tidak meneriaki suaminya. Itu lah kenapa Allah memberikan sebuah rumah di Surga kepada Khadijah.

Semoga kita semua bisa mencontoh pribadi mulia seperti Khadijah. Untuk kalian para muslimah begitu pula saya pribadi, patuhlah kepada suami dan jangan pernah meneriakinya. Bersikaplah lemah lembut dan selalu tersenyum.

Masya Allah, pribadi Khadijah, ruh Khadijah dalam mendukung Rasulullah adalah sebuah pribadi yang harus kita contoh. Semoga kita selalu dilunakkan hatinya agar bisa bersikap lemah lembut seperti Khadijah. Amiin

Kali ini saya sedikit sekali ya menuliskan sebuah curahan hati saya pribadi. Ya, saya sangat tersentuh dengan pribadi Khadijah bahkan saya ingin belajar seperti Khadijah. Setiap mendengar perjuangan, dukungan dan kesetiaan Khadijah, saya tidak kuat untuk menahan air mata. Semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kalian, para muslimah agar bisa bersikap lemah lembut terhadap suami dan terus mendukung suami di jalan yang benar.

Mungkin itu dulu saya ya, terimakasih sudah berkenan untuk membaca curhatan saya ini. Hehe.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wwabarakatuh

Jumat, 01 September 2017

Indahnya Hijab Bagi Muslimah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah saya bisa berkesampatan menulis lagi disini ๐Ÿ˜Š Kali ini saya akan membahas tentang  hijab, walaupun sudah saya sampaikan ya tapi itu bukan dari tulisan saya melainkan dari penggalan postingan dari sebuah akun tausiyah khusus perempuan. Dan kali ini saya mau curhat mengenai hijab. Hehe

Alhamdulillah, saya mulai mengenakan hijab itu ketika saya masih smp. Saat itu memang sebuah tuntutan karena sekolah saya diharuskan memakai hijab tapi alhamdulillahnya itu kebawa dalam kehidupan sehari-hari saya. Hijab selalu saya pakai ketika keluar rumah, hal itu membuat saya jauh lebih percaya diri. Saya belum mengetahui keistimewaan dari hijab namun yang saya tahu saat itu adalah hijab merupakan kewajiban bagi  seorang perempuan dalam Islam.

Siapa bilang kalau memakai hijab harus hatinya dulu yang dihijabi. Salah, buktinya saya, hehe. Saya mengakui bahwa saya berhijab saat itu belum seutuhnya berhijab karena hati saya masih jelek bahkan ilmu agama aja masih pas-pasan. Tapi bukan berarti sekarang hatinya udah baik dan ilmu agama bagus ya? Bukan, justru saat ini saya sedang belajar cara memantaskan diri melalui ilmu agama yang saya dapat, Insya Allah akan merubah hati atau perilaku kita dalam kesehariannya.

Dulu saya pernah kok pakai pakaian yang ketat seperti kaos, celana jeans dan kerudungpun belum menutup dada dengan sempurna. Saya juga melalui proses itu tapi alhamdulillah, Allah memberikan jalan yang sangat istimewa. Saya sudah diketukkan hatinya sejak masih sekolah untuk mengenakan hijab walaupun perilaku atau sifat saya masih jauh dari kata baik. Allah memberikan jalan kepada setiap hamba-Nya yang mau berusaha. Semua butuh proses dan melalui proses itu kalian akan belajar banyak hal.

Bagi kalian yang masih buka tutup hijab, sebaiknya tutup hijab kalian dengan sempurna karena dengan hijab bisa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Saya dan kalian seorang muslimah adalah perhiasan yang harus dijaga keindahannya, bukan? Tidak inginkah seperti mutiara? Dia terjaga baik didalam cangkang kerang dan terlindindungi dari segala bahaya. Seperti halnya hijab, dengan hijab kalian yang seperti mutiara terjaga dari pandangan laki-laki. Ketika kita menyibakkan hijab kita, apa yang dipikirkan laki-laki? Kita tidak tahu, tapi akan jauh lebih baik untuk menjaga diri agar lawan jenis tidak memandangi kita yang bisa mengakibatkan pada dosa. Bukankah perempuan adalah perhiasan yang harus dijaga, seperti dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwassalam, “ Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shaleha” (HR Muslim)

Perintah menutup aurat bukan dari saya ya? Hehe, melainkan perintah langsung dari Allah subhanahu wata’ala. Seperti penggalan surat Al-A’raf ayat 26, “ Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”

Riwayat untuk menutup aurat sebenarnya cukup banyak, namu saya tidak bisa menuliskan terlalu banyak. Baiklah sebagai referensi, berikut diantaranya adalah
QS. An-Nur:31 “ Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya dan hendaklah mereka menutupkain kain jilbab ke dadanya”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada asma’ ra, “ Wahai Asma’ sesungguhnya wanita itu apabila telah dewasa tidak layak kelihatan darinya kecuali ini dan ini (sembari beliau menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangan beliau)” (HR Abu Daud)

Dan ini adalah salah satu hadits apabila menggunakan hijab namun masih seperti telanjang,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa, “ Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: satu, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan dua, para wanita yang berpakaian telanjang, berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim)

Potongan-potongan ayat dan hadits diatas sudah secara tegas memerintahkan kepada kita para kaum hawa untuk mengenakan hijab yang sempurna. Lalu, kalau kita lihat di berbagai negara banyak model berhijab tuh buat muslimah. Baik, selama pakaian itu masih menutup aurat dengan baik dan tidak ketat menurutku sih sah-sah saja. Hal itu merupakan sebuah khazanah dalam keberagaman umat manusia. Yang penting kita meyakini bahwa pakaian yang kita kenakan tidak mengundang perhatian atau tidak menyebabkan diri kita sombong namun tetap ingat ya tertutup dengan baik.

Curhat dikit ya, saya alhamdulillah menerima hidayah yang luar biasa ketika kuliah di semester akhir saya. Saya mulai mengenakan pakaian yang syar’i itu karena saya banyak membaca postingan dari media sosial tentang pentingnya menjaga aurat dan mengenakan pakaian yang syar’i bagi perempuan muslim. Saya sangat berterimakasih kepada admin itu yang selalu memberikan sebuah inspirasi bagi saya, semoga rahmat Allah selalu tercurahkan kepada mereka. ๐Ÿ™

Alhamdulillah, setelah saya mencoba mengimplementasikan perintah Allah untuk memakai pakaian yang syar'i,  Allah selalu memberikan kemudahan baik dalam urusan dunia maupun belajar mendalami agama. Masya Allah, jika niat dikarenakan untuk menggapai ridha Allah semua itu akan mudah. Allah akan selalu memberikan jalan dari arah manapun, Masya Allah.

Sulit untuk mengekspresikan betapa baiknya Allah kepada hamba-Nya. Saya yakin, jika kalian merasakan betapa dekatnya Allah, tiap detik dalam ingatan kalian membuatmu menangis karena mengingat begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Jadi sahabat muslimahku, sampai kapan kita terus mengenakan hijab tapi tetap saja berlaku sombong, ingin dipuji karena cantik dan dikata lebih muda. Sampai kapan hijab hanya digunakan sebagai trend fashion saja, sampai kapan hijabmu benar-benar kamu gunakan karena Allah? Sampai kapan??? Sahabat muslimahku, jika sekarang kalian masih dalam proses, sungguh saya sangat bersyukur. Mungkin sekarang belum, tapi suatu saat Insya Allah hidayah akan menghampirimu, suatu saat ๐Ÿ˜ŠSaya sangat menghargai kalian yang sudah mau berhijab walaupun belum sempurna, setidaknya kalian sudah berusaha untuk menaati perintah Allah. Mari, belajar ilmu agama Islam lebih dalam lagi, Insya Allah kalian akan menemukan manisnya Islam selama proses belajar itu.

Kesempatan kali ini mungkin cukup dulu ya, sedikit curhatan dari saya semoga bisa memberikan sedikit saja kesempatan untuk mengoreksi diri kita sendiri. Begitu pula dengan saya, yang masih belajar seperti kalian dalam mengoreksi diri, maybe kalian jauh lebih baik dari saya. Hehe

Mohon maaf jika ada suatu perkataan yang tidak mengenakkan, tolong beritahu saya kalau ada yang salah atau tidak berkenan. Terimakasih
Wassalamu’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Kamis, 10 Agustus 2017

Ladang Pahala Melalui Sosial Media. Tunggu Apalagi, Yuk Cuss


Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, sepertinya sudah lama ya aku tidak posting coretan disini. Baiklah, seperti janjiku sebelumnya. Kali ini aku akan membahas pentingnya sosial media untuk media berdakwah.
Saya yakin pasti kalian memiliki akun sosial media lebih dari satu, seperti facebook, twitter, instagram dan masih banyak lagi. Kira-kira selama ini media sosialnya buat apa aja ya? Ehhm, masih banyak loh diantara kita yang pakai sosial media cuma buat mainan aja. Iya mainan, maksudnya cuma digunakan buat eksis gitu. Cekrek upload selfie cekrek upload. Kira-kira manfaatnya apa sih sahabat? Mungkin kepuasan diri ya, tidak bisa disangkal lagi memang latah upload foto itu sudah menjamur dikalangan masyarakat saat ini.

Teknologi yang sangat canggih menuntut kita juga harus canggih dalam meng-upgrade diri kita sahabat. Jangan sampai latah gitu aja, niatnya sih cuman ngasih tahu tapi giliran dapat ‘like’ atau ‘coment’ pasti seneng kan? Hati-hati loh sudah menjurus ke riya’. Iya, riya’ nggak cuma melakukan ibadah sebaik mungkin agar dipuji ketika banyak orang namun sekarang ini perilaku riya’ juga dapat muncul melalui sosial media sahabat. Jadi, untuk persoalan ibadah nih sebaiknya dilakuin diam-diam itu lebih baik. Dalam hadist riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwassalam bersabda, “Barangsiapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya. Dan barangsiapa yang riya’ dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riya’nya”

Jadi, alangkah baiknya menggunakan sosial media buat berdakwah. Misalkan nih share tentang hadits (tentu haditsnya bersanad shahih ya sahabat), surat dalam Al-Qur’an atau petuah-petuah bijak lainnya. Barangkali dengan postingan tersebut dapat mengetuk pintu hidayah yang membaca agar lebih baik, iya kan? Jangan takut buat dikatain riya’, siapa yang tahu kalau kita riya’ kan? Cuma Allah yang tahu kita riya’ atau tidak, yang penting kita niatnya adalah menyampaikan kebaikan karena Allah. Insha Allah, pahala bakal kalian raup sepuasnya. Tidak perlu mendeskribsikan diri kita ke orang lain, toh orang yang benci kalian tidak butuh itu dan yang suka kalian juga tidak memperdulikannya. Tahu kan kata-kata ini seperti kalimat yang disampaikan siapa? Siapa lagi kalau bukan gudangnya ilmu yaitu Ali bin Abi Thalib.

Nggak ada salahnya kan kalau kita mengajak kebaikan, daripada sosial media cuman buat eksis aja toh yang seneng cuman diri kita sendiri. Sedangkan kalau buat berdakwah kan yang seneng bukan cuman diri kita aja, yang pasti itu Allah, malaikat, dan yang jelas terlihat adalah teman atau saudara kalian. Masa’ nggak mau sih kalau Allah suka sama kita karena sudah melakukan perbuatan yang baik. Nggak hanya membuat Allah bangga namun untuk kalian juga pahala yang melimpah. “Barangsiapa mengajak kepada hidayah, dia akan memperoleh pahal itu seperti pahala-pahala yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala-pahala mereka. Barangsiapa mengajak kepada kesesatan, dia akan memperoleh bagian dosa seperti dosa-dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dosa-oa mereka (yang mengikutinya).” (HR Muslim dari Abu Hurairah no. 4831)

Jadi, manfaatin sosial media itu sebagai ladang menanam pahala sahabat. Kita sebagai muslim kan wajib untuk menyampaikan ilmu yang kita ketahui, masa’ sih kita egois mau dimakan sendiri pahalanya, nggak kan? Dan yang terpenting ya sahabat, jangan buat sosial media kalian sebagai letak untuk berdebat. Masalah debat mungkin sudah saya sampaikan sebelumnya ya. Boleh saja berdiskusi atau bernasihat namun tidak untuk berdebat, toh nasihat itu juga diajarkan dalam Islam. “Dari Tamin ad-Duri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassalam bersabda, ‘Agama itu adalah nasihat’. Kami bertanya, ‘Bagi siapa?’ Belian menjawab, ‘Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi pemimpin umat Islam, dan bagi umat Islam pada umumnya.” (HR Muslim)"

Tunggu apalagi untuk berhijrah dari penggunaan sosial media yang awalnya untuk eksis sekarang buat menyampaikan pesan kebaikan. Banyak loh sahabat diantara kita yang mendapatkan hidayah kemudian hijrah cuman dari postingan sosial media. Atau mungkin diantara kalian juga termasuk disini? Tidak apa sahabat, lebih baik hijrah sekarang daripada nanti-nanti, menumpuk pahala dan bertaubat akan memberikan kita jalan lebih lebar menuju surga. Insha Allah. Soal pahala, surga dan neraka, itu bukan hak seorang manusia ya yang memutuskan. Semuanya itu mutlak hanya Allah subhanahu wata’ala yang berhak mengetahui-Nya. Kita hanya seorang hamba yang sedang menanam padi agar hasilnya bisa dipetik kelak, ibaratnya sih gitu. Hehe. Kita disini cuman sementara kan, dan kita dikasih kesempatan hidup itu untuk mencari bekal kelak di akhirat. Ya Allah, astaghfirullah saya saja tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau kita di akhirat. Begitu banyak dosa yang masih kita lakukan maka dari itu banyak-banyak istighfar ya sahabat dan melakukan amal ibadah mulai dari hal kecil semacam ini, ya posting penggalan ayat kek atau yang lainnya. “Dari Abdullah ibn Amr bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwassalam bersabda, ‘Sampaikanlah dari walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah apa yang telah aku beritahukan mengenai Bani Israil karena demikian itu tidak berdosa. Barangsiapa berdusta tentang aku, kelak tempatnya di neraka” (HR Al-Bukhari)

Jelaskan ya sahabat, “Sampaikanlah dariku (Muhammad shallallahu ‘alaihiwassalam) walaupun hanya satu ayat”, maksudnya sampaikan apa-apa yang memberikan kebaikan bagi saudaramu, umat muslim. Yuk, move on sekarang sebelum terlambat tidak ada salahnya untuk melangkahkan kaki kalian selangkah demi selangkah dalam kebaikan.

Mungkin itu dulu ya , kalau ada mood hehe saya akan sharing lagi disini. Maklum yah, kalau lagi nulis itu kendalanya di mood jadi kalau mood ilang ya ide juga ilang. Eh jadi curhat, hihi. Semoga yang berkesempatan membaca artikel juga mendapatkan rahmat-Nya. Semoga hidayah selalu menghampiri kita. Aamiin

Eh satu hal lagi, kalau saya ada kekeliruan baik penulisan, sumber atau yang lainnya, saya mohon maaf. Itu kesalahan dari saya pribadi sedangkan kebaikan/kebenaran hanya datang dari Allah subhanahu wata'ala. Silahkan tinggalkan komentar ya, baik yang setuju dengan artikel saya atau ingin memberikan kritik tentang tulisan saya. Terimakasih๐Ÿ˜Š
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Selasa, 04 April 2017

Rumah di Pinggiran Surga, Mau? Lakukan ini!


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Saya ada pengalaman yang perlu saya share ya, ini hampir sama dengan kasus kunci dan flashdisk saya yang pernah saya ceritakan beberapa waktu yang lalu. Baiklah sahabatku, saya akan memulai cerita saya ya.

Sebenarnya ini tentang seseorang yang suka sekali dengan berargumen atau ngajak debat lebih tepatnya. Yang saya maksudkan adalah debat atau berargumen yang negatif ya sahabatku, yang tidak berlandaskan ilmu. Berbeda jika debat tersebut ditujukan oleh dr. Zakir Naik, justru dia menjadi contoh yang baik bagi umat Islam. Dia menguasai kitab lain untuk mengajak debat tentang Islam kepada orang non-muslim. Masyaallah, itu sangat mulia bahkan beliau telah mengislamkan banyak orang. Dia berdebat dengan berlandaskan ilmu pengetahuan yang ia kuasai, namun masih saja ya banyak yang mencela.

Kembali lagi ke pembahasan awal tentang debat yang negatif ya sahabatku. Menurut kalian,  bagaimana sih perasaan kalian ketika ada yang berargumen atau posting di sosial media tentang sesuatu yang berbeda pemikiran dengan kalian terlebih soal agama? Ada rasa jengkel, marah atau sejenisnya kan? Itu seperti yang saya rasakan saat itu. Namun sahabatku, mau berkomentar atau bisa dibilang berdebat justru tidak akan menyelesaikan masalah akan tetapi masalah baru akan muncul.  Jadi, alangkah baiknya untuk diam saja. Itu menjadi prinsip saya ketika ada orang yang selalu ingin ngajak diskusi yang lebih condong ke perdebatan negatif dengan tujuan memojokkan saya.

Seperti dalam hadits,
“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam” (HR. Bukhari& Muslim)

Saya selalu melihat orang itu memposting sesuatu yang selalu bertentangan dengan apa yang saya pikirkan, sampai suatu saat dia memposting sesuatu dengan mencela ulama internasional (Tahu dong siapa? :D) yang notabene saudaranya sendiri (Muslim). Tangan saya rasanya gatal ingin berkomentar, ketika saya sudah mengetik dengan kata-kata yang bisa dibilang lebih halus namun Allah telah melarang saya buat melakukan itu. Tahu darimana saya bisa berkata semacam itu? Saya berpositif thinking saja dengan Allah dan itu seperti yang telah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sarankan bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ketika itu, saya sudah mengetikkan kata-kata yang siap untuk saya kirim pada komentar dari postingan sosial media orang tersebut, namun tiba-tiba hape saya tidak bisa mengetik dan halaman page tersebut harus di road. Sekejap saya membuang nafas karena saat itu saya dalam perasaan jengkel. Beberapa menit kemudian saya mencoba untuk berpikir lebih jernih “Astaghfirullah, maafkan saya. Terimakasih Ya Allah sudah mencegah saya” kurang lebih kata-kata itu yang ada dibenak saya, kemudian saya semakin tenang dan lebih tenang.

Benar saja, bahwa itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsip saya sejak awal untuk tidak berdebat atau berkomentar tentang postingan yang semacam itu. Saya ingat bahwa berdebat itu tidaklah baik dan selain itu tidak disarankan seperti dalam hadits,
“ Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat" (HR. Bukhari&Muslim)

Saya menyadari bahwa saya kurang ilmu jika diajak untuk berdebat, justru yang ada hanyalah kekesalan atau bahkan kebencian. Dan hal tersebut yang menjadi alasan kenapa Islam sangat tidak suka kepada orang yang berdebat tentang hal yang tidak berlandaskan ilmu.

Namun tetap saja banyak orang yang nyolot dengan pendapatnya sendiri. Dia lebih mementingkan logikanya daripada apa yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Saya sangat menyesalkan jika saudaraku muslim yang selalu berdebat (yg negatif) dengan mengedepankan logika dan egonya. Ingatlah bahwa keputusan atau debat yang hanya dilandaskan atas logika atau ego justru akan menghancurkan diri sendiri.

Meredam ego dan tidak berfikir yang negatif kepada sesama saudara muslim atau pun non-muslim akan membuat hati sahabatku lebih adem, tenang dan kalian bahkan akan lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Percayalah sahabatku, ketika kalian bertemu dengan perdebatan yang justru menimbulkan kebencian lebih baik dengarkan dan diam. Walaupun sesaat kalian memiliki perasaan yang meledak-ledak, namun beberapa waktu kemudian kalian justru akan menemukan jawaban yang benar dan tidak menyesalinya.

Apakah kalian tidak menginginkan rumah di pinggiran surga? ya rumah itu ditujukan buat sahabatku yang bisa meninggalkan perdebatan. Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
" Saya memberikan jaminan rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggu bagi yang membaguskan akhlaqnya” (HR. Abu Dawud)

Masyaallah, indah banget kan?

Jika ingin berdebat sekelas dr. Zakir Naik maka yang perlu kalian miliki adalah ILMU. Ya, tidak hanya memposting atau berargumen dengan menjelekkan oknum tertentu baik dengan dukungan artikel ataupun tidak. Sebab artikel pada website juga belum tentu valid kan, bahkan banyak kok website yang suka memojokkan tokoh-tokoh tertentu padahal mereka juga muslim.

Jangan sampai ya hal tersebut terjadi pada kalian, naudzubillah min dzalik. Inget, hahwa mereka itu adalah saudara muslim kalian sendiri.

Saya sharing kisah saya ini karena saya tidak ingin orang lain terpancing dengan perdebatan atau argumen orang yang tidak sependapat dengan sahabatku terutama jika bersangkutan dengan agama. Topik mengenai agama itu sangat sensitif sahabatku, jadi harus hati-hati dalam menanggapinya. Jadi, manfaatkan sosial media dengan bijak dan baik ya sahabatku. Amalan baik bisa datang mengalir melalui sosial media loh sahabat. Oiya pembahasan ini mungkin the next ya.

Mungkin cukup dulu ya sahabatku, semoga pengalaman saya ini bermanfaat. Saya sendiri bukanlah makhluk yang sempurna ya sahabat, maaf kalau ada kalimat atau konten yang menyinggung sahabat.

Terimaksih, wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Minggu, 26 Maret 2017

Begini Caranya Biar Bisa Jauh Dari Playboy Pake Kedok "Islami"

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh ukhti

Kesempatan kali ini saya masih berbicara tentang cinta dalam Islam ya. Saya yakin pasti ada yang baper kan kalau membahas masalah ini termasuk saya hehe. Tidak masalah itu sudah menjadi fitrah kok tinggal kitanya saja yang harus memanage perasaan itu. Jangan sampai kita tenggelam pada perasaan itu dan secara tidak sadar menjauh dari-Nya.

Okay ukhti sahabatku, ini adalah kisah saya pribadi dan teman saya juga mengalami masalah hal yang sama. Mungkin sahabat yang disana pernah juga mengalami masalah semacam ini, dan bingung harus berbuat apa. Apakah harus menjauh atau malah sudah terjebak didalamnya. Okay, saya saat ini berbicara soal seorang playboy lillah. Loh kok gitu sih? Kok harus pakai lillah, kan jadi gimana gitu.

Begini ya penjelasannya sahabatku, pernah tidak sih kalian didekatin sama laki-laki yang mulutnya manis banget. Dia bakal janjiin nikah, rayuannya..beeuuhh maut banget. Dia bikin cinta itu terkesan syari’at sahabat. Iya cinta yang terkesan syari’at.  Jadi dia sering sekali mengingatkan kita buat shalat, berdzikir, shalawat, tahajjud ataupun ibadah lainnya. Hati-hati yang sahabatku, ini namanya talbis atau tipu daya iblis.

Dia sering chat kepada kita tentang hal-hal yang manis, nanyain kabar setiap waktu. Haduuuh, siapa dia iya kan? Hati-hati loh nanti jadi tergoda, jadi suka deh sama do’i. Iya sahabatku, perempuan itu diciptakan dari tulang yang bengkok jadi cepet banget rapuhnya kalau belum ada yang mencoba buat ngelurusin (suami dong jelasnya ya bukan pacar). Selain itu, perempuan itu diciptakan dengan hati yang lembut dan mudah tersentuh, nah sahabatku karena kita ini diciptakan dengan hati yang lembut maka dari itu kita harus menjaga diri jika ada laki-laki yang mencoba merayu kita. Perempuan itu akan mudah sekali terkena rayuan laki-laki karena laki-laki memang diciptakan dengan mulutnya yang manis.
Lalu bagaimana buat menghindari orang semacam itu? Hal ini pernah juga saya sampaikan kepada sahabat saya, karena saya pernah mengalaminya jadi tidak ada salahnya kan ya buat dibagi/disharing kepada sahabat.

Pertama, Menjauhi orang tersebut. Karena jaman sekarang begitu canggih ya sahabat, jadi buat tanya kabarpun tidak harus bertemu atau melalui surat, dengan kirim chat aja satu detik langsung sampai. Jika laki-laki itu menghubungi dan terus mengusik kalian, delete saja kontak dia. Blocking semua akun sosial medianya. Lah itu kan sama saja sudah memutuskan silaturahmi? Jangan cemas sahabat, ini kan bukan atas kehendak kalian juga kan. Ini semua karena kesalahan dia, jika sahabat tidak melakukannya justru sahabat sendiri yang dosa karena terus berinteraksi dengan dia.

Saya pernah juga dapat sms karena sudah delete dan block semua sosial media seseorang, dibilang saya sudah tidak lagi menjaga silaturahmi. Agar tidak ada kesalahpahaman dan hati juga tidak merasa bersalah, lalu saya membalasnya “Maaf, Saya bukan bermaksud untuk memutuskan silaturahmi namun saya menjaga diri..” teks selanjutnya saya lupa sahabat, soalnya sudah cukup lama ya. Pada intinya, kalau dia menghubungi kalian, jelaskan secara tegas bahwa sahabat tidak ingin berdosa karena rayuan dia. Ya, kalau bisa katakan secara lebih halus ya biar orang itu juga tidak sakit hati.
Lalu bagaimanan kalau kita sudah terlanjur suka sama laki-laki itu? Sahabatku, soal jodoh jangan terlalu khawatir. Percaya dengan takdir Allah kan? Nah, serahkan semua kepada Allah, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Toh kalau dia jodoh sahabat, pasti nanti akan kembali dengan keadaan siap melamar sahabatku. Indah kan?

Barangsiapa meninggalkan pujaan hati yang belum halal karena Allah, maka Allah akan beri ganti dengan jodoh yang terbaik yang menjaga kesucian diri (©Muslimpedia).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh seorang sahabat,

 “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik” (HR. Ahmad,5:363. Syaikh Syu’aib Al arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kedua, perbanyak ibadah. Misalnya dengan berdzikir, yang seperti direkomendasikan oleh Ustadz Yususf Mansur, istighfar 100x, sholawat 100x, subhanallahu wa bihamdihi 100x. Atau dzikir-dzikir lainnya yang biasa sahabat lakukan.

Kalau saya pribadi, sering berdzikir dengan membaca subhanallahu wa bihamdihi 100x itu ketika selepas shalat subuh(pagi) dan shalat maghrib (sore). Agar kenapa?
Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,
“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika pagi dan sore membaca ‘Subhanallahu wabihamdihi (Maha Suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sebanyak 100 kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorang pun yang akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.””

Jadi sahabatku, jangan lupa buat terus mencharge iman kita ya. Lakukan dzikir, baca Al-Qur’an atau ibadah-ibadah lainnya. Insya Allah kita akan dijauhkan orang-orang semacam itu dan dipertemukan dengan orang yang jauh lebih baik. Aamiin.

Pada intinya, soal jodoh itu sudah diatur oleh Allah subhanahu wata’ala. Hanya kita perlu sabar untuk menjemput jodoh tersebut. Perbanyak ibadah ya pastinya dan sembari nunggu jodoh datang lakukan kegiatan-kegiatan positif seperti datang ke majelis ta’lim, ikut dalam komunitas sosail atau yang lainnya yang bisa terus menjaga keistiqomahan sahabat agar terus selalu dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala.

Mungkin cukup dulu kali ya sahabat, kalau ada pertanyaan atau menanggapi soal artikel ini silahkan tunggalkan komentar dibawah ini. Jangan lupa vote nya. hehe

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 25 Maret 2017

Tips Untuk Yang Hijrah Dari Pacaran Tidak Halal

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh sahabatku

Sehat kan sahabat? Saya? Alhamdulillah luar biasa masih diberikan nikmat kesehatan oleh Allah. Jangan lupa untuk bersyukur setiap hari ya biar tambah semangat dan Allah terus menyayangimu.

Sahabatku, sejak kapan kamu merelakan pandanganmu untuk lawan jenis yang belum berhak ada disampingmu? Sejak kapan kamu menghalalkan dirimu untuk memberikan dia perhatian khusus padahal dia tidak seharusnya mendapatkan itu darimu? Sahabatku, apa yang sedang kamu kejar saat bersama orang yang belum halal untukmu?

Sahabatku, tentu lah sulit untuk melepas orang yang kita suka, bukan? Tapi, Allah sudah menjanjikan orang yang tepat untukmu. Lalu kenapa kamu memilih orang yang belum tentu Allah meridhainya? Sahabatku, jika saat ini kamu mulai terketuk hati untuk hijrah dari perbuatan yang tidak Allah suka ini maka mulailah dari sekarang walaupun itu sangat berat bagimu.

Sahabatku, saya juga pernah melalui tahap seperti ini. Harus benar-benar meninggalkan orang yang kita suka karena memang itu belum waktunya. Ya, Allah belum memberikan kita ijin untuk bersama orang yang belum halal bagi kita. Tidak perlu saya ceritakan kan bagaimana rasanya? Saya yakin sahabat tahu bagaimana rasanya.

Jika memang sahabatku khususnya bagi kalian perempuan yang  sedang menyukai seseorang, cukuplah do’a yang menjadi penghubung kerinduan kalian. Menyerahkan semuanya kepada Allah adalah jalan yang paling tepat.

Lalu bagaimana cara untuk meninggalkan orang yang kita suka? Bagaimanan caranya untuk hijrah dari semua itu? Sahabatku, ini adalah sekedar pengalaman yang pernah saya alami. Mungkin sahabatku bisa mencontohnya ya, Insya Allah semoga berhasil.

Pertama, putuskan orang yang saat ini sedang kamu anggap sebagai seorang pacar. Sahabatku, pacaran yang syar’i itu tidak ada, saya mohon jangan terus menghalalkan alasan semacam itu. Saya banyak menemui sahabat-sahabatku yang memiliki pandangan untuk menikah, namun yang sangat disayangkan dari mereka adalah berpacaran. Diantara mereka pernah bilang, “Saya sama pacar saya juga sering membahas nikah. Pacar saya juga pernah bilang akan menikahi saya pada waktu yang tepat”

Saya jadi teringat dengan kisah romantis ustadz-ustadzah dari teman saya. Saat itu, ustadz-ustadzah tersebut masih dibangku kuliah. Mereka sering mengajar TPA ditempat yang sama, hingga pada waktunya  mereka harus berpisah karena sudah sama-sama lulus kuliah. Saat itu, si ustadzah harus kembali ke kampung halamannya di Riau sedangkan ustadz tetap tinggal di Yogyakarta.  Sebelum mereka berpisah, ustadz tersebut sempat bilang kepada si ustadzah kalau dia menyukainya lalu ustadzah menjawab, “Saya harus kembali ke kampung halaman saya di Riau, kalau pun kita berjodoh Insya Allah Allah akan mempertemukan kita kembali”

5 tahun mereka tidak pernah bertemu kembali namun mereka sering bertegur sapa melalui sepucuk surat. Sempat ustadzah sedang ta’aruf dengan seorang dokter, ketika mereka bertemu di suatu tempat secara tidak sengaja ustadzah tersebut melihat ustadz sedang menatapnya. Begitu pula dengan si ustadz, ketika dia akan melamar seorang perempuan dia gagal dan seperti melihat si ustadzah. (Saya tidak tahu dengan maksud ini ya, mungkin saja ini halusinasi. Ambil sisi positifnya aja ya)

Sampai suatu ketika, temannya mengajak si ustadz untuk pergi ke Riau. Lantas ustdaz teringat dengan ustadzah yang tinggal di Riau. Dengan berani ustadz berkata kepada temannya tentang alamat dari ustadzah apakah ada orang yang kenal dengan keluarga dari ustadzah. Subhanallah, dengan ijin Allah semua itu terjawab. Orang yang mengajak ustadz tersebut mempunyai teman yang kenal dengan keluarga ustadzah. Disaat ustadz akan kembali ke Yogyakarta, dia sempatkan untuk mengunjungi rumah si ustadzah.

Mereka pun mengobrol mengenai kesibukan masing-masing selama 5 tahun terakhir. Dan juga menceritakan kejadian aneh yang terjadi kepada mereka. Sontak hal itu membuat si ustadz yakin untuk meminang ustadzah. Pada akhirnya, sebelum kembali ke Yogyakarta si ustadz memberanikan diri mengatakan kepada kedua orang tua si ustadzah untuk berniat mempersunting anak  mereka.

Hikmat dari cerita ini ya sahabatku, sejauh apapun kalian berada kalau Allah sudah menetapkan  kalian berjodoh maka Allah akan mempertemukan. Tidak perlu melalui pacaran kan, cukup berteman. Kalau pun berjodoh maka dengan sendirinya  kalian akan bertemu di pernikahan.

Untuk memulai hijrah ini, niatkan pada diri karena Allah dan Bismillah.

Kedua,  Berusaha untuk tidak memberikan perhatian atau sering-sering menghubungi dia. Ya sahabat, ketika kalian sering menghubungi orang yang kita suka justru ada rasa yang dapat menyebabkan kita berdosa. Alangkah baiknya untuk tidak sering berkomunikasi untuk menghindari sebab-sebab semacam itu.

Ketiga, mulai berteman dengan orang yang sholeh/sholehah ya agar perjalanan hijrahmu tidak terpotong di jalan. Kadangkala kamu bisa futur karena memilih berteman dengan orang yang salah, untuk menghindari hal semacam itu maka pilih teman yang benar-benar memiliki visi yang sama denganmu yaitu ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ya, orang-orang juga akan menilaimu dengan siapa kamu berteman kan? Selain kamu bisa beristiqomah karena dukungan teman hijrahmu, kamu juga akan mendapatkan banyak ilmu serta pengalaman dari mereka. Dengan begitu Insya Allah, hatimu akan terus bersemangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Seiring waktu kamu akan menikmati kesendirian dan tidak terbelenggu perasaan yang sebelumnya dirasa berat.

Keempat,  berpuasa. Sahabatku, dengan berpuasa maka kamu akan bisa mengendalikan emosi kamu. Bahkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim mengatakan bahwa “Abdullah ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kmi: “Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.””

Kelima, memperbanyak istighfar. Sahabatku, dengan kamu memikirkannya setiap saat tentu akan menimbulkan perasaan yang  justru menggebu-gebu. Hal ini justru tidak baik buat sahabatku kan? Perbanyak mengucapkan istighfar dan memohon ampunan kepada Allah. Menyadari bahwa semua itu adalah kesalahan sebelum halal. Merindukan atau pun mencintai dengan berlebihan adalah sebuah kesalahan yang dapat menjerumuskan sahabat kepada dosa. Ya, kita saja telah diperintahkan untuk menundukkan pandangan yang berarti dengan memandangnya saja kita sudah berdosa karena sudah termasuk zina mata. Masa’ mau sih berperilaku semacam itu, terlebih ada zina-zina lain kalau tetap melakukan pacaran sebelum halal, iya bukan? Contoh seperti berduaan, ada yang mungkin gandengan tangan dan masih banyak kemungkinan lain lagi.

Sahabatku, dengan menyadari bahwa itu semua adalah kesalahan justru kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena kita menyadari betapa besar kesalahan/dosa yang telah kita perbuat pada masa lalu. Dengan kesadaran semacam ini lah yang akan membangkitkan semangat kita untuk tetap istiqomah.

Keenam, Jika sahabat mencintai seseorang cukup berdo’a kepada Allah bahwa dia adalah jodoh kamu. Kalau pun bukan, terus berdo’a kepada Allah untuk bertemu dengan seorang yang lebih baik daripadanya. Dengan begini ya sahabat, kamu akan lebih ikhlas untuk tidak terikat kepadanya. Kamu akan bisa dengan lega menerima keadaan yang saat ini membingungkanmu. Tidak akan ada pertanyaan “Bagaimana kalau dia bukan jodohku” yang akan mengganggumu. Kamu akan lebih bijaksana dan tenang ketika mendapatkan pertanyaan mengenai jodoh. Cukup katakan dalam hati dan hanya Allah yang mengetahuinya. Tidak ada yang lebih baik daripada itu.

Ketujuh, terus memperbaiki diri. Ya dengan sibuk memperbaiki diri kamu akan lupa dengan tujuan sebelumnya..ehm dalam artian tujuan pacaran ya... Allah telah berjanji kan kepada hambanya, bagi laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik atau sebaliknya. Masa’ kamu nggak ingin menjadi perempuan yang  baik untuk laki-laki yang baik?

Sahabatku, kalau dia adalah laki-laki yang baik menurutmu belum tentu baik bagi Allah. Agar Allah mempertemukan dengan laki-laki yang baik maka kamu juga perlu menjadi yang lebih baik. Insya Allah semua akan ada hikmat dari penantian dan kesendirianmu. Ya, semua itu ditujukan karena Allah bukan karena ingin mendapatkan dia ya. Jangan salah niatnya..hehe

Sahabatku, saya sendiri bukan seorang yang sempurna, seutuhnya baik atau pun yang baik-baiklah ya. Ini semua karena Allah Maha Baik menutup aib-aibku. Kalau saja aib itu terlihat dan berbau, saya yakin sahabat pasti tidak mau mendekatiku. Semua itu karena kebaikan-Nya, Masya Allah. Semua orang  berhak untuk menjadi lebih baik seperti halnya dengan sahabatku semua.

Mari bersama-sama untuk berbenah diri agar kelak saat berumah tangga kita semua bisa menjaga keluarga kita karena Allah Subhanallahu wata’ala. Dan berharap bisa berkumpul di surga dengan wajah berbinar-binar. Masya Allah, membayangkan surga aja sudah bahagia bagaimana rasanya kalau benar-benar tinggal disana, iya kan? Tentu sahabatku, itu semua adalah impian. Namun kita masih harus melewati terminal tempat pemberentian selanjutnya. Sedangkan sekarang saja kita sedang berhenti di terminal dalam waktu yang singkat. Astaghfirullah. Maka dari itu, menyadari bahwa dunia ini adalah fana sangatlah penting. Dari sini tabungan untuk akhirat mulai dipupuk.

Jika mengingat hal semua itu, jadi teringat dengan lemahnya diri ini ya sahabat. Memegang bara api saja sudah kepanasan, tentu merasakan hawa panas api neraka pasti tidak kuat. Na’udzubillah min dzalik. Maka dari itu, saya ingin sekali mengajak sahabat untu berbuat baik. Fastabiqul khoirat ๐Ÿ™Œ๐Ÿƒ

Okay kembali ke topik di atas ya, sahabat masalah jodoh sudah Allah atur dan ditulis dalam Lauh Mahfudz. Tergantung mau bagaimana kita menjemputnya, mau yang baik nan halal atau yang buruk dan penuh dosa. Semua itu pilihan sahabat, kalau saya sih tentu milih yang baik ya.

Semoga, sahabat yang belum berjumpa dengan jodohnya segera dipertemukan dengan jodohnya termasuk saya (eh?! Hehe). Selalu istiqomah dalam memperbaiki diri. Aamiin

Bagi yang sudah bertemu dengan jodohnya, semoga tidak lupa perannya dalam berumah tangga. Semoga terus menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Aamiin

Kali ini tulisan saya panjang sekali ya, hehe. Tidak apa-apa kan sahabat, berbagi ilmu kan sebuah kewajiban seorang muslim. Mungkin cukup dulu ya, takutnya nanti malah pada baper. Hehe

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Kamis, 23 Maret 2017

Terus lah Melangkah, Karena Orang Tua Ada Selalu Di Belakangmu



Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sahabatku, beberapa waktu lalu saya melihat cuplikan video tentang ibu di salah satu beranda akun sosial media saya. Jelas itu akan mengingatkan saya kepada sosok perempuan yang sejak kecil memarahi saya, menasehati saya mengenai memilih teman yang benar, akan terus ngomel jika saya manja dan banyak lagi. Namun, itu semua hanya kenangan bagi saya sahabatku. Saya hanya bisa membayangkan wajahnya saja, mengingat setiap cuplikan film ciptaan Allah saat saya masih bersama beliau, Subhanallah.

Dalam postingan video tersebut tertuliskan “Jangan pernah berhenti untuk menjalankan hidup, sebelum semuanya berakhir terus kejarlah mimpi kita. Percayalah setiap perlakuan baik yang kita lakukan didunia pasti beliau ikut bangga disana. Tapi ingat satu hal, jangan pernah berhenti mendo’akan orang tua kita yang telah tiada. Tetap semangat walaupun sangat begitu berat๐Ÿ˜Š”

Kalimat itu telah mewakilkan saya untuk disampaikan kepada sahabat-sahabatku yang masih memiliki kedua orangtua. Itu adalah surat dari hati kecil hati saya untuk sahabatku yang merasa sedih, meratapi salah satu orang tuanya yang telah tiada.

Sahabatku, saya tahu gimana rasanya ditinggal oleh orang tua kita. Sesak di dada setiap kali rindu menerpa, rasanya ingin memeluk sosok yang sedang kita rindukan. Tapi sahabatku, jujur saya sangat tidak suka bagi siapa saja yang merasa berlebih dalam bersedih, berlebihan dalam rindu, meratapi kepergiannya “Kenapa beliau meninggalkan saya...andaikan beliau disini..” dan masih banyak lagi.

Sahabatku, tahu kah bahwa sikap semacam itu amatlah tidak disuka oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam?  Bahkan dalam Hadits Riwayat Bukhari no. 1209 “.....Nabi  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa yang meratapi mayat maka mayat itu akan disiksa disebabkan ratapan kepadanya”

Sahabatku, itu lah salah satu alasan saya untuk tidak merasa sedih atas kepergian salah satu orang tua saya yaitu ibu. Alasan yang sesungguhnya untuk tidak merasa sedih bahwa ibu adalah milik-Nya. Apa hak saya untuk mengelak  takdir yang memang telah diambil-Nya kembali? Saya seorang hamba, sedangkan Ibu  adalah orang yang memang dititipkan oleh Allah untuk mendidik, membesarkan saya sampai dewasa. Dan setelah saya dewasa, Allah mengambilnya kembali. Saya banyak mengambil hikmat atas takdir Allah yang datang saat itu. Saya sangat yakin, itu adalah pemberian dari-Nya yang paling baik kepada saya, keluarga saya.

Mungkin sahabatku yang sempat melayat kerumah saya, justru saya tidak tampak kesedihan dan terlihat tegar. Justru saya sangat berterimakasih kepada sahabat-sahabat saya yang menghibur saya dan membuat saya tertawa pada saat itu. Walaupun tiga hari kemudian, saya merasakan betapa sepinya rumah tanpa seorang ibu. Iya, dia adalah salah satu alasan untuk pulang ke rumah. Namun sekarang, untuk pulang pun rasanya sudah berbeda. Saya tidak bisa melihat lawakan, cerita atau sekedar melihat seorang perempuan yang duduk di kursi sambil meratapi sesuatu yang entah apa itu.

Tenang sahabatku, saya tidak sedih karena saya tidak ingin melihat ibu saya yang sudah berada di dunia sana merasa tersiksa dengan kesedihan saya. Tidak, cukup Allah yang Maha Tahu kerinduan saya kepada beliau. Hanya untaian do’a untuknya yang bisa saya mohonkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Merayu-Nya agar beliau diberikan tempat terbaik, mengampuni segala kesalahannya selama di dunia. Ya, saya tegar saya kuat saya akan melakukan apapun untuk membahagiakannya, membanggakannya dan tidak membuatnya bersedih atau sakit dengan apa yang saya lakukan disini.

Ya Allah, genggamlah tangan saya untuk terus tegar. Peluklah saya agar terus kuat dan pijakkan kaki saya dengan penuh kekuatan agar saya mampu melangkah dengan tegas dan maju terus ke depan.

Sahabatku, sungguh saya sangat iri dengan kalian yang masih memiliki ibu, sebab kalian masih memiliki keberkahan do’a dari seorang ibu. Maka dari itu, saya mohon kepada sahabatku untuk terus menyemangati kedua orang tua kalian. Membuat mereka bahagia setiap kalian menjumpai mereka. Jika kalian merantau, seringlah memberikan kabar kepada mereka. Sering ucapkan kalimat yang menyentuh kepada mereka seperti “Saya sayang kalian, bu, pak”. Kalahkan gengsi kalian dan katakan kalimat yang kelihatannya sepele namun dampaknya kepada orang tua sungguh luar biasa.

Terimakasih sahabatku yang sudah mau membaca tulisan saya ini. Saya hanya ingin sahabatku terua optimis dan terus melangkah maju kedepan. Tidak bersedih hati atau meratapi kepergian orang tua. Dan bagi sahabatku yang masih memiliki orang tua, saya hanya ingin mengingatkan betapa pentingnya keberadaan mereka. Sebelum terlambat, bahagiakan mereka dengan cara apapun dan terus do'akan mereka.

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh๐Ÿ˜Š